Jika selama ini kita belajar tentang shalat, puasa, dzikir, dan akhlak, maka semuanya bermuara pada satu titik puncak yang tertinggi. Apakah itu? Imam Al-Ghazali menjawabnya di dalam Kitab Mukhtashar Ihya Ulumuddin Bab ke-36.
Bab ini berjudul: Fi Al-Mahabbah Wa Asy-Syauq Wa Ar-Ridha (Tentang Cinta, Rindu, dan Ridha kepada Allah).
1. Mahabbah Adalah Puncak Segalanya
Imam Ghazali membuka bab ini dengan kalimat yang sangat agung:
“Ketahuilah, sesungguhnya Mahabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan puncak yang paling akhir (Al-Ghayah Al-Qushwa), dan ia adalah derajat yang paling tinggi. Sedangkan derajat Syauq (rindu), Unsu (merasa dekat), dan Ridha (rela) semuanya adalah pengikut dari Mahabbah.”
Artinya: semua ibadah kita itu untuk melahirkan cinta kepada Allah. Jika sudah cinta, maka rindu dan ridha akan ikut dengan sendirinya.
“Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (Al-Maidah: 54)
“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.”
3. Kisah Menggetarkan: Nabi Ibrahim dan Malaikat Maut
Diriwayatkan kisah yang masyhur: Ketika Malaikat Maut datang kepada Nabi Ibrahim AS untuk mencabut nyawanya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai Malaikat Maut, pernahkah kamu melihat seorang kekasih membunuh kekasihnya?”
Lalu Allah mewahyukan kepada Ibrahim: “Apakah kamu pernah melihat seorang kekasih yang benci bertemu dengan kekasihnya?”
Mendengar itu, Nabi Ibrahim langsung berkata: “Wahai Malaikat Maut, sekarang cabutlah nyawaku.” – Inilah buah dari cinta. Kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, tapi pertemuan dengan Sang Kekasih.
4. Doa Agar Dicintai Allah
Rasulullah mengajarkan doa yang luar biasa:
“Ya Allah, anugerahkan kepadaku cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, cinta terhadap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu, dan jadikan cinta-Mu lebih aku cintai daripada air yang dingin.”
5. Kabar Gembira Untuk Pecinta Allah dan Rasul
Seorang Arab Badui datang bertanya: “Kapan Kiamat, ya Rasulullah?” Nabi bertanya balik: “Apa yang sudah kau siapkan untuknya?” Ia menjawab: “Aku tidak menyiapkan banyak puasa dan shalat, tapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.
Maka Nabi bersabda:
الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.”
Sahabat Anas bin Malik berkata: “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan setelah masuk Islam yang lebih besar daripada mendengar sabda ini.”
6. Pesan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
Sayyidina Abu Bakar berkata: “Barangsiapa yang telah merasakan murninya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka cintanya itu akan menyibukkannya dari mencari dunia, dan membuatnya merasa tidak butuh kepada semua manusia.”
Penutup:
Maka, jangan hanya beribadah karena takut neraka atau ingin surga. Naikkan niat kita. Beribadahlah karena cinta kepada Allah. Itulah maqam tertinggi.