Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Puncak Tertinggi Seorang Hamba Adalah Cinta (Mahabbah) Kepada Allah

Jika selama ini kita belajar tentang shalat, puasa, dzikir, dan akhlak, maka semuanya bermuara pada satu titik puncak yang tertinggi. Apakah itu? Imam Al-Ghazali menjawabnya di dalam Kitab Mukhtashar Ihya Ulumuddin Bab ke-36.

Bab ini berjudul: Fi Al-Mahabbah Wa Asy-Syauq Wa Ar-Ridha (Tentang Cinta, Rindu, dan Ridha kepada Allah).

1. Mahabbah Adalah Puncak Segalanya
Imam Ghazali membuka bab ini dengan kalimat yang sangat agung:

“Ketahuilah, sesungguhnya Mahabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan puncak yang paling akhir (Al-Ghayah Al-Qushwa), dan ia adalah derajat yang paling tinggi. Sedangkan derajat Syauq (rindu), Unsu (merasa dekat), dan Ridha (rela) semuanya adalah pengikut dari Mahabbah.”

Artinya: semua ibadah kita itu untuk melahirkan cinta kepada Allah. Jika sudah cinta, maka rindu dan ridha akan ikut dengan sendirinya.

2. Dalil Al-Qur’an dan Hadits
Allah berfirman:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ (Al-Baqarah: 165)

“Dan orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”

يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ (Al-Maidah: 54)

“Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya, dan seluruh manusia.”

3. Kisah Menggetarkan: Nabi Ibrahim dan Malaikat Maut
Diriwayatkan kisah yang masyhur: Ketika Malaikat Maut datang kepada Nabi Ibrahim AS untuk mencabut nyawanya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai Malaikat Maut, pernahkah kamu melihat seorang kekasih membunuh kekasihnya?”

Lalu Allah mewahyukan kepada Ibrahim: “Apakah kamu pernah melihat seorang kekasih yang benci bertemu dengan kekasihnya?”

Mendengar itu, Nabi Ibrahim langsung berkata: “Wahai Malaikat Maut, sekarang cabutlah nyawaku.” – Inilah buah dari cinta. Kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, tapi pertemuan dengan Sang Kekasih.

4. Doa Agar Dicintai Allah
Rasulullah mengajarkan doa yang luar biasa:

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ مَا يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ، وَاجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ

“Ya Allah, anugerahkan kepadaku cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, cinta terhadap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu, dan jadikan cinta-Mu lebih aku cintai daripada air yang dingin.”

5. Kabar Gembira Untuk Pecinta Allah dan Rasul
Seorang Arab Badui datang bertanya: “Kapan Kiamat, ya Rasulullah?” Nabi bertanya balik: “Apa yang sudah kau siapkan untuknya?” Ia menjawab: “Aku tidak menyiapkan banyak puasa dan shalat, tapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Maka Nabi bersabda:

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.”

Sahabat Anas bin Malik berkata: “Kami tidak pernah merasakan kebahagiaan setelah masuk Islam yang lebih besar daripada mendengar sabda ini.”

6. Pesan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
Sayyidina Abu Bakar berkata: “Barangsiapa yang telah merasakan murninya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, maka cintanya itu akan menyibukkannya dari mencari dunia, dan membuatnya merasa tidak butuh kepada semua manusia.”

Penutup:
Maka, jangan hanya beribadah karena takut neraka atau ingin surga. Naikkan niat kita. Beribadahlah karena cinta kepada Allah. Itulah maqam tertinggi.

Wallahu A’lam.

f X P WA in