Al-Bab Ar-Rabi’ – Bab Keempat dalam Kitab Mukhtashar Ihya Ulumuddin, yaitu: Fi Asrar As-Shalah Wa Muhimmatiha (Tentang Rahasia-Rahasia Shalat dan Hal-Hal Pentingnya).
Pada bab ini Imam Al-Ghazali menjelaskan betapa agungnya kedudukan shalat melalui beberapa fasal.
1. Fadhilah (Keutamaan) Adzan
Rasulullah SAW bersabda: “Tiga golongan di atas bukit dari misik pada hari Kiamat, mereka tidak takut dengan hisab dan tidak sedih: (1) Orang yang membaca Al-Qur’an karena mengharap wajah Allah, (2) Orang yang diuji dengan rezeki di dunia tapi itu tidak menyibukkannya dari amal akhirat, (3) Seorang muadzin yang adzan untuk shalat.”
Dan sabda beliau: “Tangan Ar-Rahman (Kasih sayang Allah) berada di atas kepala muadzin sampai ia selesai dari adzannya.”
Bahkan Allah berfirman, yang ditafsirkan sebagian ulama untuk muadzin:
Artinya: “Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan ini, yang sempurna dan memiliki shalat yang didirikan. Berilah Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkanlah beliau pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan.”
2. Fadhilah Shalat Sebagai Penghapus Dosa
Rasulullah bersabda: “Shalat-shalat (lima waktu) itu adalah penghapus dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.”
Beliau juga bersabda: “Pembeda antara kami dan orang-orang munafik adalah menghadiri shalat Isya dan Subuh berjamaah, mereka tidak mampu melakukannya.”
Dan sabda agung: “As-Shalatu ‘Imadud Din, faman tarakaha faqad hadama ad-Din” – “Shalat adalah tiang agama, barangsiapa meninggalkannya maka ia telah merobohkan agama.”
Hal pertama yang akan dilihat (dihisab) pada hari Kiamat dari amal seorang hamba adalah shalatnya. Jika shalatnya sempurna, maka sempurna dan selamatlah seluruh amalnya. Jika shalatnya kurang, maka merugi.
3. Fadhilah Menjadi Imam dan Mencuri dalam Shalat
Rasulullah menjelaskan pahala memimpin shalat sebanding dengan pahala orang yang shalat di belakangnya jika ia menyempurnakan rukuk dan sujudnya.
Peringatan keras: “Sejahat-jahatnya pencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana ia mencuri shalatnya?” Beliau menjawab: “Ia tidak menyempurnakan rukuknya, sujudnya, dan tidak khusyuk di dalamnya.”
4. Fadhilah Shalat Berjamaah
“Shalat berjamaah melebihi shalat sendirian dengan 27 derajat (dalam riwayat lain 25 derajat).”
Ibnu Abbas RA berkata: “Barangsiapa mendengar panggilan adzan lalu tidak mendatanginya tanpa udzur, maka tidak ada shalat baginya.”
Keutamaan besar: “Barangsiapa shalat berjamaah selama 40 hari tanpa tertinggal takbiratul ihram bersama imam, maka Allah akan menuliskan baginya dua kebebasan: bebas dari kemunafikan dan bebas dari api neraka.”
5. Fadhilah Sujud
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang lebih utama daripada sujud yang tersembunyi (khafi).”
Dan: “Jarak paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya.”
Ada seorang sahabat meminta kepada Rasulullah: “Doakan aku agar Allah menjadikan aku termasuk ahli syafaatmu dan memberimu rezeki menemaniku di surga.” Rasulullah menjawab: “Bantulah aku (untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujud.”
6. Fadhilah Khusyuk
Allah berfirman:
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي (Thaha: 14)
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya shalat itu adalah merendahkan diri (tamaskun), merendah (tawadhu’), merengek, dan memelas kepada Allah. Jika tidak melakukan itu, maka ia adalah shalat yang cacat (khidaj).”
Dan: “Barangsiapa shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan munkar, maka tidaklah ia bertambah dekat kepada Allah kecuali semakin jauh.”
“Ketahuilah bahwa shalat adalah munajat (berbisik-bisik dengan Allah), maka bagaimana mungkin bisa terjadi munajat bersama dengan lalai (ghaflah)?”
Beliau melanjutkan: “Allah tidak akan melihat kepada shalat yang di dalamnya hati seorang hamba tidak hadir bersama badannya.”
Nabi Ibrahim AS dahulu jika berdiri untuk shalat, detak jantungnya terdengar dari jarak satu mil karena takutnya kepada Allah.
8. Fadhilah Membangun dan Memakmurkan Masjid
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membangun masjid untuk Allah walaupun hanya seperti sarang burung qatha’ (sangat kecil), maka Allah akan membangunkan untuknya istana di dalam surga.”
Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya para pengunjung-Ku di dalamnya adalah orang-orang yang memakmurkannya. Maka beruntunglah seorang hamba yang bersuci di rumahnya kemudian mengunjungi-Ku di rumah-Ku, maka menjadi hak bagi yang dikunjungi untuk memuliakan yang mengunjunginya.”
“Jika kalian melihat seseorang terbiasa (bolak-balik) ke masjid, maka saksikanlah bahwa ia adalah orang beriman.”
Sayyidina Anas RA berkata: “Barangsiapa yang menyalakan lampu di dalam masjid, maka malaikat dan para pemikul Arsy akan terus memintakan ampun untuknya selama cahaya itu masih menerangi masjid.”
Semoga dengan memahami bab ini, shalat kita tidak lagi sekadar gerakan, tapi menjadi munajat yang hidup.