“Nak, ini uang seadanya. Enggak cukup buat nutup utang kamu.”
Kalimat itu keluar dari mulut saya sambil tangan ini gemetar memegang lembaran-lembaran rupiah yang sudah tidak seberapa. Di depan saya, ponsel itu masih menyala, layar slot berputar-putar, angka-angka berkedip, seolah mengejek hidup kami yang hancur berantakan. Anak saya, yang dulu saya banggakan, yang saya sekolahkan mati-matian, sekarang cuma bisa diam, menunduk, tidak berani menatap mata ibunya sendiri.
Saya bukan siapa-siapa. Saya cuma emak-emak biasa yang tinggal di kampung. Suami saya sudah lama pergi, jadi saya yang kerja banting tulang, jualan sayur, kadang jadi buruh cuci, buat biayain sekolah anak saya. Satu-satunya harapan saya cuma dia. Tapi siapa sangka, harapan itu justru runtuh gara-gara situs slot yang muncul di iklan-iklan medsos.
Awalnya Cuma Iseng, Sekarang Malah Jadi Utang
Anak saya, sebut saja namanya Andi, awalnya anak yang pendiam. Dia jarang keluar rumah, lebih suka main HP. Saya pikir, ya wajar lah, anak zaman sekarang. Saya enggak pernah curiga. Sampai suatu hari, saya dapet telepon dari tetangga. Katanya, Andi udah nunggak utang di warung. Saya kaget. “Utang apa?” tanya saya. Ternyata, dia udah minjam uang ke beberapa orang, ada yang Rp500 ribu, ada yang Rp2 juta.
Saya masih bingung. Uang segitu buat apa? Saya tanya Andi baik-baik. Awalnya dia ngelak. Bilang buat beli buku, buat bayar sekolah. Tapi mata saya enggak bisa dibohongin. Saya cek HP-nya. Di situ, saya nemu aplikasi slot online. Ada riwayat deposit: Rp50 ribu, Rp100 ribu, Rp300 ribu. Ada juga riwayat “withdraw” yang cuma sekali-sekali. Sisanya? Kalah. Habis.
Saya baru sadar, anak saya udah kecanduan judi online.
Data yang Bikin Saya Makin Sesak
Saya bukan orang yang paham data. Tapi setelah kejadian itu, saya coba cari tahu. Ternyata, apa yang dialami anak saya bukan hal yang langka. Justru, ini sudah kayak wabah.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan mencatat, perputaran uang judi online sepanjang tahun 2025 aja mencapai Rp286,84 triliun. Angka itu tercatat dalam 422,1 juta transaksi sepanjang tahun. Bayangkan, Nak. Uang sebanyak itu, yang seharusnya bisa buat bangun sekolah, buat kasih makan orang miskin, buat bantu anak-anak yang enggak bisa sekolah, semuanya disedot sama bandar-bandar yang enggak punya hati.
Yang bikin saya makin sesak, ternyata hampir 200 ribu anak Indonesia udah terpapar judi online. Sekitar 80 ribu di antaranya masih di bawah usia 10 tahun . Anak-anak, Nak. Bocah-bocah yang harusnya belajar ngaji, belajar matematika, belajar jadi manusia yang berguna, malah udah kenal yang namanya slot, deposit, withdraw. Saya enggak bisa bayangin.
Kalau ditanya siapa yang paling dirugikan, jawabannya jelas: perempuan dan anak-anak. Menteri Komunikasi dan Digital sendiri yang bilang, banyak istri dan ibu jadi korban ketika suami atau anak mereka terjerat judi online. Kehilangan pendapatan, keharmonisan rumah tangga hancur, bahkan enggak jarang sampai kena kekerasan fisik .
Cerita Andi, Anak SMP yang Rela Begadang Demi “Jam Gacor”
Saya enggak sendiri. Ada banyak emak-emak di luar sana yang ngalamin hal yang sama. Saya baca di berita, ada Andi, bukan nama sebenarnya, seorang siswa SMP di Banjarnegara, Jawa Tengah. Dia mulai main slot sekitar dua tahun lalu, waktu masih kelas 1 SMP. Modal awalnya cuma Rp50.000, pakai rekening ibunya buat daftar.
Awalnya dia menang. Dari modal Rp50 ribu, saldonya naik jadi Rp250 ribu. Dia senang bukan main. “Pertama WD Rp250.000. Senang banget waktu itu,” katanya. Sejak itu, dia makin sering main. Depositnya naik terus. Kadang menang Rp500 ribu, tapi lebih sering kalah. “Kalau dihitung-hitung rugi lebih besar. Pernah isi Rp300.000 terus habis, malah spin lagi,” akuinya.
Dia mulai percaya sama mitos “jam gacor”, katanya kalau main tengah malam, peluang menang lebih besar. Jadilah dia begadang, kadang sampai jam 3 pagi. Pernah suatu kali dia kesiangan berangkat sekolah karena main sampai dini hari. Kepada keluarganya, dia cuma bilang, “Enggak bisa tidur”.
Yang bikin saya miris, Andi bahkan enggak hafal nama situsnya. Katanya, situs-situs itu sering ganti nama. Tapi gampang dicari, cukup ketik kata kunci tertentu di Google, langsung muncul. Jadi, meskipun pemerintah udah blokir jutaan situs, bandar-bandar itu selalu punya cara buat menjangkau anak-anak kita.
Ibu di Lampung: Anakku Kabur, Utangnya Aku yang Tanggung
Kalau cerita Andi bikin saya sedih, ada satu cerita lagi yang bikin saya nangis sendiri di kamar. Cerita ini dari seorang ibu di Way Kanan, Lampung. Videonya viral di TikTok. Di situ, ibu itu nangis sambil megang uang. Uangnya enggak seberapa. Katanya, itu buat nutup utang anaknya.
“Awalnya utang kamu Rp10 juta, kini membengkak jadi Rp19 juta,” ujarnya sambil terisak. “Utang sebanyak itu untuk apa? Untuk main slot kan?”
Yang bikin saya makin enggak tega, anaknya udah pergi meninggalkan rumah. Ibunya yang harus nanggung semua utang. Penagih udah mulai datang. Ibunya bilang, “Uang ini milik ibumu, dan uang ini untuk membayar utang slot. Kamu kok tega, Nak, saya harap kamu sadar”.
Saya baca itu, saya peluk anak saya yang lagi tidur. Saya takut. Takut dia juga kabur. Takut saya juga harus nanggung utang yang bukan saya buat.
Kenapa Anak-Anak Kita Gampang Terjerat?
Saya bukan ahli. Saya cuma emak yang belajar dari pengalaman. Tapi dari yang saya baca dan saya rasain, ada beberapa alasan kenapa anak-anak kita, dan bahkan orang dewasa, gampang banget terjerat:
Pertama, iklannya di mana-mana. Di TikTok, Instagram, Facebook. Bahkan di situs-situs yang harusnya aman buat anak. Situsnya pindah-pindah domain, jadi meskipun diblokir, besok muncul lagi.
Kedua, sistemnya memang dirancang bikin ketagihan. Menteri Komunikasi sendiri bilang, judi online itu scam, sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang. Tapi di awal, mereka kasih menang. Biar kita percaya, biar kita terus main.
Ketiga, anak-anak kita enggak punya benteng. Mereka enggak paham risiko. Mereka cuma lihat temennya main, mereka penasaran. Apalagi kalau udah ada yang ngajarin. Seperti Andi, awalnya cuma lihat temen, terus diajarin bikin akun.
Apa yang Harus Kita Lakukan, Nak?
Saya enggak bisa ngasih solusi yang muluk-muluk. Saya cuma emak yang lagi belajar. Tapi dari pengalaman saya, ada beberapa hal yang harus kita lakuin bareng-bareng:
Pertama, jangan pernah tinggalin anak sendirian sama HP-nya. Saya dulu salah. Saya pikir, yang penting anak di rumah, aman. Ternyata enggak. Bahaya itu justru datang dari dalam kamarnya sendiri. Sekarang, saya selalu cek HP Andi. Bukan buat nyari kesalahan, tapi buat memastikan dia enggak balik lagi ke lubang yang sama.
Kedua, ajak ngobrol. Jangan cuma marah-marah. Saya belajar, anak yang kecanduan judi online itu sedang sakit. Psikiater bilang, judi online bisa ngerusak prefrontal cortex, bagian otak yang ngatur perencanaan dan emosi. Jadi, jangan cuma dihukum. Tapi dirangkul, diajak ngobrol, dibawa ke ahli kalau perlu.
Ketiga, putus aksesnya. Kalau perlu, ganti nomor, hapus aplikasi, batasi kuota. Lapor ke bank kalau ada transaksi mencurigakan. Pemerintah udah nyediain layanan pengaduan. Manfaatkan.
Keempat, bangun lingkungan yang sehat. Anak saya sekarang saya ikutkan kegiatan karang taruna. Saya ajak ngaji. Saya cariin temen-temen yang positif. Karena percuma kita larang, kalau lingkungannya justru mendukung.
Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Saudaraku, para emak-emak, para bapak-bapak, para guru, dan siapa pun yang masih peduli sama masa depan anak-anak kita, saya mohon, jangan tunggu sampai kejadian kayak yang saya alami.
Coba cek HP anak Anda malam ini. Tanyakan baik-baik. Jangan langsung nuduh. Kalau ada tanda-tanda, jangan panik, tapi jangan diabaikan. Cari bantuan. Ada psikolog, ada layanan konseling, ada komunitas yang peduli.
Tulis di kolom komentar: apa yang akan Anda lakukan untuk melindungi anak Anda dari judi online? Bagikan artikel ini ke grup keluarga, ke grup WhatsApp emak-emak, ke siapa pun yang punya anak. Karena satu anak yang selamat dari judi online adalah satu masa depan yang diselamatkan.
Saya sudah kehilangan banyak. Saya enggak mau kehilangan anak saya sepenuhnya. Jangan sampai Anda merasakan hal yang sama.
Daftar Pustaka:
- Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). (2026). Perputaran Dana Judi Online Tahun 2025. Diakses dari ppatk.go.id.
- Kementerian Komunikasi dan Digital. (2025). Kampanye Tolak Judi Online: 200 Ribu Anak Indonesia Jadi Korban. Diakses dari bpsdm.komdigi.go.id
- Kompas.com. (2026). Cerita Anak Terjerat Judi Online: Diam-diam Pakai Identitas Orang Tua hingga Nekat Jual Barang Berharga. Diakses dari kompas.com.