Akhir-akhir ini di media sosial ramai istilah “Gus-Gusan”. Dalam tradisi pesantren, Gus adalah gelar kehormatan untuk putra Kiai. Gelar ini mulia karena menyambungkan sanad keilmuan dan keikhlasan pengasuh pesantren.
Namun ketika gelar Gus dipakai hanya untuk mengejar penghormatan, tanpa dibarengi dengan ilmu, adab, dan tirakat, maka yang terjadi adalah degradasi makna Gus itu sendiri. Fenomena inilah yang oleh orang Arab dahulu sudah diingatkan dalam sebuah syair hikmah.
Teks Syair dan Sumber KitabImam
kutip foto dari kitab An-Nahwu Al-Wafi karya Abbas Hasan (w. 1398 H), Jilid 3, Masalah 112 tentang Af’alut Tafdhil. Di sana beliau mengutip dua bait yang saling berlawanan:
وَشَرُّ الْعَالَمِينَ ذَوُو خُمُولٍ # إِذَا فَاخَرْتَهُمْ ذَكَرُوا الْجُدُودَا
Sejelek-jelek manusia adalah mereka yang malas dan tidak punya prestasi, ketika diajak beradu kemuliaan, mereka hanya menyebut-nyebut kakek moyangnya.
وَخَيْرُ النَّاسِ ذُو حَسَبٍ قَدِيمٍ # أَقَامَ لِنَفْسِهِ حَسَبًا جَدِيدًا
Dan sebaik-baik manusia adalah yang memiliki kemuliaan leluhur yang lama, lalu ia membangun untuk dirinya sendiri kemuliaan yang baru.
Dari sisi Nahwu, kata خَيْرٌ dan شَرٌّ asalnya adalah أَخْيَرُ dan أَشْرَرُ. Hamzahnya dibuang karena sering dipakai (katsratul isti’mal). Ini dihukumi syadz tapi fasih, bahkan dipakai di dalam Al-Qur’an.
Makna Mendalam Syair Tersebut
Syair pertama mencela dzawu khumul: orang yang punya nasab tinggi tapi khamil – tidak terkenal karena prestasinya sendiri, malah tenggelam. Senjatanya hanya satu: “Kakek saya Kiai fulan, buyut saya wali fulan.”
Syair kedua memuji orang yang beruntung: ia sudah punya modal nasab baik, tapi tidak berhenti di situ. Ia aqama linafsihi hasaban jadidan – ia dirikan kemuliaan baru dengan ngaji, ngabdi, dan karya nyata.
Inilah bedanya Gus yang hakiki dengan Gus-Gusan.
Mengapa Fenomena Ini Bisa Muncul di Pesantren?
- Keliru Memahami Barokah Nasab. Barokah nasab itu ada, tapi ia butuh dijemput dengan mujahadah. Imam Syafi’i mengingatkan: anak orang alim tidak otomatis alim, yang alim adalah yang mau belajar.
- Hubbur Riyaasah (Cinta Kepemimpinan). Ingin dihormati seperti bapaknya tanpa mau menjalani laku tirakat seperti bapaknya.
- Masyarakat yang Terlalu Memuja Gelar. Selama masyarakat masih menilai keshalihan dari sorban dan panggilan “Gus”, bukan dari ilmu dan akhlaknya, maka pasar Gus-Gusan akan tetap ada.
Nasehat Kunci dari Rasulullah SAWPondasi akidah kita sangat jelas:
مَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
Barangsiapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak akan dapat mempercepat derajatnya. (HR. Muslim)
Kemuliaan di sisi Allah bukan dilihat dari siapa bapakmu, tapi apa amalmu.
Penutup: Tugas Kita Sebagai Santri
Gelar Gus adalah amanah, bukan warisan jabatan. Jika seorang Gus itu alim, tawadhu’, istiqomah mengaji dan mengayomi santri, maka wajib kita muliakan. Dialah Khoirun Nas yang dimaksud syair kedua.
Tugas kita para santri bukan untuk membenci, tapi untuk mengambil pelajaran: jangan sampai kita juga menjadi Dzawu Khumul. Kalau kita bukan putra Kiai, jangan minder. Bangunlah hasaban jadidan dengan ilmu dan adab kita sendiri. Karena di mata Allah, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling terkenal nasabnya.
Wallahu A’lam Bish Shawab.
Referensi: An-Nahwu Al-Wafi, Jilid 3, h. 394 – Maktabah Syamilah.