Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

PENGANGKUTAN BARANG DI CEYLON (SRI LANGKA)

Penulis : Fairuz Rizqi Bhayangkara (Siswa kelas VIII)

Editor : Nafa Nuristiana, S.IP

Pada suatu hari terdapat suatu kapal kargo Belanda  berlabuh di pelabuhan kolombo kapal tersebut bernama SS Ourang medan seperti biasa kapal tersebut berlabuh untuk mengantarkan kargo ke pelabuhan untuk menjual barang. Dan di dalam kapal tersebut terdapat beberapa orang di antaranya adalah John, Max, Brili dan Bryan serta terdapat Sang  Kapten kapal dan juga pengemudi  kapal.

                Bryan dan John pun berbincang-bincang di dalam kapal “Setelah ini kita akan ke mana?” Tanya Bryan.

                “Kita akan ke Batavia” kata John.

                “oh, jadi kita akan mengangkut barang lagi” kata Bryan.

                “Ya iyalah, terus ngapain lagi” kata John.

                Di luar kapal terdapat seseorang pengangkut barang yang menanyakan sesuatu kepada seseorang “Bagaimana apakah sudah selesai”.

                “Semua sudah siap pak”.

                “Bagus, kita bisa berangkat sekarang”.

                John yang melihat ke bawah pun langsung menemui sang kapten “Semuanya sudah siap kapten”.

                “Bagus, ayo driver kita berangkat sekarang” kata sang kapten.

                “Siap, kapten” kata si pengemudi kapal.

                Lalu si pengemudi pun langsung menghidupkan seluruh mesin tersebut dan kapal tersebut berangkat menuju Batavia (Jakarta).

 

AWAL DARI TRAGEDI

                Kapal itu pun pergi dari pelabuhan Kolombo untuk menuju Batavia. Di malam hari Jones  bersama dengan Max dan 2 kru lainnya sedang duduk di dalam kapal . John  dengan wajah ceria dan gembira langsung membuat sorak sorai buatannya  “Batavia, Batavia, horayy” .

                Ia melakukannya sampai 5 kali, Max yang keheranan langsung bertanya kepadanya “John, kenapa kamu seperti gembira dan melakukan sorakan seperti itu”.

                “Oh… itu karena aku suka dengan Batavia” kata John.

                “Mengapa kamu suka dengan Batavia?” tanya Max.

                “Karena Batavia itu sangat bagus sekali mulai dari sejarahnya, kulturnya, arsitekturnya dan lain-lain pokoknya suka deh sama Batavia” kata John.

                “Apakah kamu pernah ke sana?” tanya Max.

                “Oh aku sudah berkali-kali ke sana bahkan orang tuaku selalu menceritakan tentang kota itu dan kota kota lain di Hindia Belanda seperti Soerabaja, Makassar, Ambon dan lain-lain” jawab John.

                “Oh beruntungnya sekali kau” kata Max dengan murung.

                “Kamu kenapa Max, kok murung begitu, Apakah kamu belum pernah ke Batavia?” tanya John.

                “Hmmm….. masih 2 kali sih” jawab Max.

                “Mungkin saja ini menjadi kali ketiga kamu ke Batavia dan dengan dengan kamu bekerja di kapal ini mungkin saja kamu akan lebih sering mengujungi Batavia dan kota kota lain di Hindia Belanda, Malaya, Serawak, Ceylon, Arab dan lainnya” kata John.

                “Iya semoga saja begitu” kata Max.

                Lalu Max pun melihat langit malam dan mengajak John serta kru lainnya untuk tidur “Hari sudah mulai larut kawan, ayo kita tidur sekarang”.

                Lalu mereka pun tidur dengan lelap dan nyenyak. Dan keesokan paginya mereka pun terbangun lalu memebrsihkan diri setelah itu seperti biasa mereka hanya menunggu dan menunggu. Beberapa jam kemudian tragedi itu pun datang, dari belakang kapal ada sebuah penyusup yang menyamar menjadi kru kapal, para penjaga tidak mencurigainya karena berpikir ia adalah kru dari kapal

 Dia masuk ke dalam sistem pengaturan kapal dan lalu merusak sistem pipa gas yang ada di sana dengan mengubah tegangan pada ruang pendingin dan mesin kapal dan membocorkan pipa pipa tertentu.

                Setelah menyelesaikan tugasnya ia pun langsung keluar dan kabur dari kapal dan beberapa menit kemudian terjadi penurunan suhu drastis pada kapal para penjaga yang merasakan keanehan di dalam ruangan mesin tersebut langsung masuk ke dalam ruangan tersebut untuk memeriksa mesin tersebut dan para penjaga kaget melihat hampir semua mesin telah rusak.

                “Waduh bagaimana ini semua mesin telah rusak dan suhu kapal sudah menurun dengan cepat bagaimana ini?” kata penjaga 1

                “Ayo kita panggil tukang servis” kata penjaga 2

                Lalu mereka pun memanggil tukang servis tersebut dan berkata.

                “Pak, pak ada darurat pak” kata penjaga tersebut.

                “Ada apa kalian kemari dan kenapa suhu dingin sekali” kata Tukang Servis.

                “Ada kebocoran pak di bagian mesin dan pipa bahan bakar dan energi” kata penjaga 1.

                “Waduh bahaya ini ayo segera ke sana” kata Tukang Servis.

                Lalu mereka pun segera ke ruang tersebut dan Tukang Servis itu pun langsung mmeperbaiki apa yang harus diperbaiki.

                “Hei kamu!! Kamu harus memberitahu semua yang ada di dalam kapal bahwa akibat dari pendinginan ini disebabkan oleh kerusakan pada ruang teknis dan dimohon semua untuk tenang” kata penjaga 1.

                “Siap laksanakan” kata penjaga 2.

                Lalu penurunan suhu ini juga dirasakan pada ruangan lainnya terutama pada ruangan tempat kru berada. Max, John  dan seluruh kru pun merasa kedinginan dan ketakutan.

                “Haduuhhh…. Dinginnya ada apa ini, sebelumnya tidak pernah suhunya seperti ini” kata Max dengan nada menggigil.

                “Iya juga ya aku pun juga merasa begitu” kata John.

                “Haduuhh… ini siapa dah yang ngelakuin ginian, gak lucu tau” kata Brili.

                “Nanti penjaga akan segera datang, tenang saja” kata Bryan.

                Lalu penjaga pun datang dan berkata “Di mohon untuk tenang kawan-kawanku semuanya kondisi kapal begini karena terjadi kerusakan pada mesin kapal jadi dimohon untuk mengencangkan selimut kalian agar tidak kedinginan, terimakasih” kata penjaga 2.

                Lalu penjaga tersebut meninggalkan kapal dengan berkata “Haduuhhh… padahal kita gak meleng sama sekali kok begini padahal ruangan itu sudah dikunci lho… astagaaa” kata penjag 2.

                Di ruang kemudi kapal pun juga merasakan demikian si driver  merasakan bahwa kemudinya terlalu sulit untuk dikendalikan lalu dia melapor kepada Sang Kapten.

                “Kapten, kapten kemudi pada kapal ini susah dikendalikan dan juga mesin mesin ini tampak bermasalah” kata si driver.

                “Wahh… gak percaya aku sini coba aku ambil alih” lalu dia pun mencoba mengendalikan kemudi dan juga memencet tombol-tombol itu “Waduhh bener gak bisa ini”.

                “Nah betul kan kataku” kata si driver

                Lalu Sang  kapten pun memanggil asisten dan berkata “Kamu harus lihat belakang apakah ada kerusakan, cepat!!!”.

                “Siap, kapten” kata asisten tersebut dengan nada tegas.

                Lalu ia pun segera ke ruangan belakang dan menemui 2 penjaga dan 1 tukang servis lalu ia bertanya “Ada apa ini, kok ruangan kemudi tidak bisa dikendalikan ”.

                Lalu penjaga itu menjawab “ Mohon maaf, tadi ada kerusakan pada sistem mesin dan ruang pendingin, sehingga membuat suhu kapal menjadi turun dan kemudi di ruangan anda tidak bisa dikendalikan”

                Lalu Karl  pun marah dan menarik kerah si penjaga tersebut sambil berkata “Apakah kamu tidak becus haa, kamu ngapain aja bisa meleng seperti ini haa, ini tuh ruangan krusial tahu kalau sampai ini tidak bisa diperbaiki maka kapal ini bisa meledak bahkan tenggelam woiii”.

                Suara teriakan itu pun terdengar sampai ke ruangan kru lalu Brili pun bertanya kepada Max ”Itu suara apaan dah?”.

“Aku pun tak tahulah mungkin dari belakang” jawab  Max.

John pun berteriak “Hadehh.. ini bukannya nyelesaikan masalah malah nambah masalah, ayolah apakah kalian mau mematikan semua yang ada di kapal ini woiii kerja yang bener woii”.

Karl pun mendengar suara teriakan itu lalu dia balas dengan suara teriakan “Suara siapa itu!!! Sini, Sini!!!!”.

Waduh ini pasti suranya John, ngapain sih buat masalah, ini asistennya galak lagi ihh takutnya” kata penjaga tersebut.

Lalu John pun meminta maaf dengan suara yang sama “Saya minta maaf pak”.

Sementara itu Brili pun menasehati John “Itulah lain kali kalau mau protes keadaan jangan-jangan keras jadinya begini kan”.

“Iya iya deh, lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi” kata John dengan nada malu.

Lalu Karl pun pergi dari ruangan itu dan berkata “Heii, kau dan kau jaga bener- bener kapal ini keselamatan kapal ini ada di tangan kalian paham” kata  karl.

“Siap  Karl” kata kedua penjaga itu.

 

PUNCAK DARI TRAGEDI

                Setelah melalui beberapa perbaikan  ternyata hanya beberapa saja yang bisa diselamatkan lalu  tukang servis pun memperingati sang kapten agar tidak menjalankan kapal tersebut. Beberapa saat kemudian suhu sudah sangat tidak stabil si tukang servis berusaha memperbaiki pendingin tersebut tetapi tidak berhasil.

 Lalu tukang servis itu berkata pada Sang  Kapten “Situasi mesin dan pendingin kian memburuk kapten saya tidak mampu untuk menanganinya”.

“Waduh bagaimana ini kita harus bagaimana ini? Karl tolong periksa radar kita sudah sampai mana” kata Sang Kapten.

“Kita hampir sampai di selat Malaka kapten” kata Karl.

“Hmmm… kita mungkin akan memanggil kapal pembantu dari Medan atau Aceh, Ayo panggil pelabuhan tersebut untuk membantu kita” kata  sang kapten.

“Siap kapten” kata Karl.

Sebelum melakukan panggilan musibah besar pun datang mesin- mesin kapal pun error pendingin-pendingin kapal menjadi tidak terkendali dan seluruh kru ketakutan. Kapal pun terombang-ambing tidak terkendali dan begitu juga dengan kemudi.

“Eh, eh ini kenapa dah, kapalnya kok jalan sendiri”. Kata Sang kapten.

“Saya tidak tahu kapten mungkin ini mungkin ada kaitannya dengan mesin belakang” kata Asisten Perry.

“Hei Tukang Servis tolong periksa bagian belakang!” suruh sang kapten.

“Siaap kapten” kata tukang servis.

Lalu Tukang Servis pun melihat bagian belakang kapal “Apaa!!! Ini tak mungkin ini” lalu dia pun melihat bahwa pendingin kapal sudah tidak bisa di kendalikan lagi, seluruh ruangan menjadi dingin membeku sehingga membuat sebagian dari kru tersebut meninggal dalam ketakutan dan menggigil kedinginan.

Lalu Tukang Servis tersebut menemui sang kapten dan berkata “bagian mesin sebagaian sudah hancur kapten dan bagian pendinginan sudah tidak bisa saya kendalikan kapten”.

“Waduh ini mimpi buruk, kalau begini ya tamatlah riwayat kita, haduh pasrah dah” kata Sang kapten.

“Janganlah menyerah gitu kapten ini pasti ada jalan keluarnya” kata Perry.

“Jalan keluar apanya haaa… sebagian mesin sudah rusak kita sudah tidak bisa apa-apa lagi” lalu Karl membisikkan ke telinga sang kapten “ini masih di tengah laut ten, masih belum di pinggir pantai” sang kapten pun meneruskan pembicaraan “Dan kita masih berada di tengah-tengah laut woii, bagaimana coba!!”.

                “Tetapi sebagian mesinnya lagi tidak rusak kan” kata Perry.

                “Ya, ada yang masih utuh, ada yang kondisinya mengenaskan” kata  Tukang servis.

                Di ruangan kru situasi tampak mencekam sebgian kru meninggal dalam kondisi yang tidak wajar hanya beberapa saja yang masih bertahan tetapi dengan kondisi yang buruk.

                “Hiiih… dinginnya, aku tak sanggup lagi nih” kata Bryan.

                “Ayolah, pegang kuat-kuat  selimutmu agar tidak kedinginan” kata Brili.

                “Tapi, tapi……” kata Bryan.

                “Tapi, apaaaa!!!!’ kata Brili.

                Lalu Bryan pun tersungkur meninggal dalam kedinginan.

                “Bryaaaan!!!!!!!!!!” lalu Brili pun melihat kondisinya setelah itu dia pun menangis “Oh beristirahatlah dengan tenang”beberapa saat kemudian  lalu dia pun juga meninggal dalam kondisi serupa.

                “Semua orang dah pada tiada tuh, haduhh, pasrahlah tinggal nunggu aja” kata Max.

                “Nunggu apa Max” kata John.

                “Nunggu disembelih, ya nunggu mati lah kocak, kita aja masih di tengah lauatan dengan kondisi seperti ini, kalau gak nunggu mati, nunggu apa !! ” kata Max.

                “Ya mungkin ada pertolangan dari luar” kata  John.

                “Semoga, saja” kata Max.

                Penurunan suhu juga terjadi di bagian kemudi kapal sehingga menyebabkan driver kapal pun tursungkur lalu meninggal.

                “Heii, bangun, bangun woiii” kata kapten kapal.

                Lalu Karl pun mengecek kondisinya “Sepertinya sudah tidak bisa diselamatkan kapten”.

                “Oh tidak, Perry cepat lihat kondisi seluruh anggota kapal, dan panggil semua yang masih hidup untuk kemari” kata Sang kapten.

                “Siap kapten” lalu dia pun segera berlari untuk mengumpulkan seluruh anggota yang tersisa lalu mereka pun digiring ke ruang kemudi kapal.

                “Ini kapten yang tersisa cuma 2 kapten yang saya bisa bawa” kata Tukang Servis.

                “Loh yang lainnya mana!!!” kata Sang Kapten.

                “Pada mati kapten, ini pun yang bisa ku bawa itu pun cuma dari kru kapten” kata Tukang Servis.

                “Di mana anggota dapur?” kata kapten.

                “Sama kapten pada mati, dan ruangan di dapur itu malah semakin dingin kapten” kata Tukang Servis.

                “Apakah mereka pada membeku?” kata Sang Kapten.

                “Ya kapten” kata Tukang Servis.

                “Waduh, tinggal segitu lagi” kata Sang kapten.

                Lalu petir pun menyambar mereka dengan diringi dengan hujan deras yang lebat.

                “Sepertinya ini hujan” kata Karl.

                “Ayolah, kita lanjut saja perjalannya, kau yang ambil alih kapal ini, masih bisa kan mesin yang tersisa” kata Sang Kapten.

                “Masih bisa kapten ternyata” kata Karl.

                “Ayo kita lanjutkan perjalanan kita” kata Sang Kapten.

                “Okelah kalau begitu” kata Karl.

                Lalu mereka pun melanjutkan perjalanannya di tengah hujan yang lebat serta petir yang kencang, semua yang ada di kapal itu pemikirannya hanya satu, segera pergi ke pelabuhan terdekat untuk cari bantuan atau ada kapal yang membantu.

                “Semoga kita aman-aman saja ya Max” kata John.

                “Semoga saja begitu” kata Max.

                Beberapa saat kemudian ombak pun mengombang-ambingkan kapal tersebut dengan kencang, itensitas hujan pun semakin tidak terkendali dan membuat mesin-mesin yang ada di belakang kapal pun kemasukan air. Lalu ombak dingin pun masuk menghampiri kapal tersebut sehingga membuat suasana kapal dipenuhi rasa takut yang mencekam.

                “Tolong, bagaimana ini suhunya semakin dingin, aku sudah tidak kuat lagi” kata Perry.

                “Ayolah jangan takut, kita pasti bisa” kata Sang Kapten.

                Lalu setelah bebrapa saat kemudian Max dan Perry pun meninggal dunia akibat cuaca dingin. Di tengah situasi yang seperti ini mereka pun mendiskusikan sesuatu.

                “Bagaimana ini Kapten, hampir semua orang sudah mati?” kata Tukang servis.

                “Iya kapten, dan kita masih di mana” kata John.

                “Kita masih berada di dekat laut tetapi di antara Medan sama Dumai” kata Karl.

                Di sela-sela perbincangan ombak dingin kembali masuk ke dalam Kapal kali ini ombaknya sampai membuat suhu kapal hampir mencapai titik beku.

                “Suhu semakin dingin ayo encangkan selimut kalian, kalau tidak kalian akan mati” Kata karl.

                Lalu suara petir pun muncul kembali “Duarrrrr” sehingga menyebabkan Sang Kapten pun tersungkur lalu  kejang-kejang  lalu berteriak dengan kencang “Aaaaaaaakhhhhh”. Lalu semua yang di sekelilingnya pun panik dan berusaha menyelamatkan Sang  Kapten tersebut.

                “Kapten, Kapten, ambilkan air woiii” kata Tukang Servis.

                “Orang kayak gini kalau dikasih air akan gimana itu orang” kata Karl.

                “Ah aku ambilkan saja” lalu tukang servis tersebut pun mengambilkan air lalu meminumkannya pada sang Kapten tersebut, setelah Sang Kapten meminumnya dia pun langsung memuntahkannya dengan nafas tersenggal-senggal. Kondisi dari Sang Kapten pun terus memburuk.

                Lalu ia pun berteriak “Huaaaaaaaa”.

                “Kapten, Kapten” kata Karl dan Tukang Servis.

                Lalu Sang Kapten pun meninggal dengan muntah-mutah dan matanya masih melotot dengan tubuhnya yang kia  menghitam akibat dari suhu yang menurun.

                “Sang Kapten sudah meninggal bagaimana ini, jasadnya begini loh” kata Tukang Servis.

                “Taruh di situ saja” kata karl.

                “Tapi apakah nanti tidak bau nanti” kata Tukang servis.

                “Uhhhhh.. kalau begitu kau bereskan muntahan  ini, setelah itu kita tidur, besok kita akan cari bantuan ok” kata Karl.

                “Baiklah kalau begitu” lalu iapun membersihkan sisa muntahan tersebut.

                Setelah Tukang Servis itu kembali lalu Karl pun berkata “Sebelum Tidur nanti ayo kita periksa keadaan seluruh ruangan ”.

                “Okelah kalau begitu” kata Tukang servis.

                Lalu mereka pun memeriksa seluruh ruangan dengan banyaknya jasad-jasad yang bergelimpangan denagn kondisi yang buruk

                “wah banyak sekali jasad-jasadnya tapi kondisinya beku serta tubuhnya hitam” kata Tukang Servis.

                “Ya bro, ini karena suhu yang terlewat dingin ini, lihat di dapur woii” kata Karl.

                “Apaa” lalu dia pun terkejut melihat jari tangan anggota kapal yang terlepas karena suhu dingin “ihh seramnya di sini, aku sudah tidak tahan lagi”.

                Lalu saat kembali ke ruang kemudi mereka dikejutkan dengan jasad yang menyeramkan dan Tukang Servis pun memeluk Karl karena ketakutan.

                “Heii ngapain kamu peluk-peluk aku!!!!!” kata Karl.

                ‘Ya gimana lagi ini jasadnya ngeri banget” kata Tukang servis.

                Lalu karl pun menyisihkan jasad tersebut dan berkata “Akhhh, dasar penakut ini cuma jasad kok, gak perlu ada yang ditakutkan” lalu mereka pun kembali ke ruang kemudi.

                Tukang servis pun berbicara kepada Karl “Karl, jasad di sini tuh lumayan serem yah ada yang jarinya putus,badannya beku,muntah yang tidak wajar dan…”.

                Lalu Karl pun menutup mulutnya sambil berkata “Sudah cukup, ini semua karena hipotermia tadi, lagipun pendinginnya sudah error kan”.

                Lalu tuakng servis menjawab “Iya sih tapi ini sungguh tidak wajah bagiku”.

                “Sudah, sudah berhenti bicarakan itu sekrang ayo kita tidur” kata Karl.

                Lalu mereka pun  tidur di tengah jasad temannya yang telah meninggal.

 

SOS DAN AKHIR DARI KAPAL

                Di pagi hari alarm darurat kapal pun berbunyi  Karl dan tukang servis pun terbangun karena suara itu

“Ada apa itu, pagi-pagi gini alarm bunyi” kata Tukang Servis.

“Ayo kita bergegas” kata Karl.

 Dan mereka pun bergegas menuju suara dari alarm darurat itu dan sesampainya di sana mereka pun dikejutkan dengan mesin dari bahan bakar dan ruang pendingin yang sepenuhnya akan meledak.

“Aduh-aduh bagaimaana ini, ayo cepat-cepat perbaiki” kata Karl dengan nada gelisah.

Lalu Tukang Servis pun segera memeriksa mesin-mesin dan memperbaiki apa yang ia bisa perbaiki.

“Huhh…… cuma segini, yang saya bisa lakukan” kata Tukang Servis.

“Kenapa kok cuma segitu, apakah tidak bisa diperbaiki seluruh mesinnya” kata Karl.

“Yang lainnya itu rusak berat karl, bahkan ada yang mau meledak” kata Tukang Servis.

Karl pun gelisah lalu berpikir “Waduh, bagaimana ini sedangkan ini lokasinya agak dekatan dikit sih dengan Hindia Belanda, apa aku pencet sos aja”.

”Saya punya ide Karl, bagaimana kalau kita panggil lewat SOS saja, siapa tahu kita akan dapat bantuan” kata Tukang Servis.

Lalu Karl pun berpikir “Wah, kok dia bisa baca pikiranku sih” lalu berkata´”Okelah kalau begitu kita panggil lewat SOS saja” kata Karl.

Lalu mereka pun bergegas menuju ruangan kemudi dan Karl pun mengaktifkan tombol SOS sambil berkata “Seluruh kru kapal dan juga kapten kapal kami sudah meninggal, selamatkan kami atau kami semua akan mati”.

“Sepertinya aku memiliki firasat yang buruk tentang ini dah, aku terlalu takut” kata Tukang Servis.

“Sudahlah kawan, itu Cuma firasat mungkin kapal penyelamat akan tiba, sebentar lagi” kata Karl.

                Lalu bau gas pun muncul dari ruangan mesin kapal yang membuat mereka terbatuk-batuk.

                “Bau apa ini? Kok sangat menyengat sekali ini” kata Karl.

                “Ini mungkin dari bagian mesin tetapi kok aneh gini” kata Tukang Servis.

                “Mesin lagi, mesin lagi, emangnya tidaka ada ruangan lain apa selain mesin apa? Kapal ini mayan luas woi” kata Karl.

                “Tapi emangnya ada ruangan lain selain ruangan itu, ruangan itu terus yang menjadi masalah” kata Tukang Servis.

                Lalu Karl pun terbatuk-batuk tak berhenti serta kejang-kejang  lalu tukang servis pun lalu mendekati Karl lalu berkata “Karl, kamu kenapa Karl, sadar Karl, sadar”.

                Lalu Karl pun meninggal dengan mata terbuka dan tubuh yang beku. Setelah melihat Karl yang sudah tiada dia pun menjadi gemetar dan takut, ia pun lalu berdiri berjalan sebentar lalu tersungkur meninggal dengan kondisi sama seperti Karl.

                Pada sekitar pukul 10 pagi di wilayah Dumai seorang karyawan radio pantai menerima pesan tersebut dan lalu ia pun segera membacanya “Seluruh kru kapal dan juga kapten kapal kami sudah meninggal, selamatkan kami atau kami  semua akan mati”.

                Lalu ia pun terkejut dan langsung melaporkannya kepada atasan “Lapor kami menerima pesan SOS pak dari SS Orang Medan”.

                “Pesan apa itu bacakan isinya?” kata atasan tersebut.

                Lalu dia pun membacakan pesan itu dan lalu atasan tersebut berkata “Di mana letak kapal itu sekarang”.

                “Di sekitar selat Malaka pak” kata karyawan tersebut.

                Lalu atasan tersebut memerintahkan seluruh tim penyelamat untuk menghadap kepadanya setelah semua terkumpul lalu atasan tersebut berkata “Kalian dikumpulkan di sini karena saya akan memerintahkan kalian untuk menjalani misi penting, misi pentingnya adalah untuk menyelamatkan Kapal yang ada di selat Malaka yaitu SS Ourang Medan”.

                Lalu ia pun memanggil kepala tim penyelamatan tersebut lalu dia menyerahkan cetakan dari hasil radar tersebut  dan juga mengarahkan dirinya terkait rencana ini dan ini. Setelah semua arahan selesai lalu atasan tersebut menyampaikan sesuatu “Kalian harus berhati-hati dan selamatkan apa yang bisa diselamatkan, keselamatan mereka ada di tangan kalian!!!”.

                Setelah sesampainya di sana mereka menemukan sesuatu yang sangat mengerikan yaitu semua orang yang meninggal semua dengan tubuh yang membeku dengan mata yang terbuka dengan disertai rasa takut di antara mereka.

                “Kok kayak begini ya jasadnya, pasti ada yang tidak beres sebelumnya dari mereka semua” kata pemimpin tim penyelamat.

                “Iya, perasaan saya seperti tidak enak gitu lihatnya” kata salah satu dari tim penyelamat.

                “Tunggu apalagi ayo ambil tali dan evakuasi kapal ini” kata pemimpin tim penyelamat.

                Mereka pun segera mengencangkan kapal tersebut dengan tali dan mereka pun akan membawa kapal tersebut ke Dumai. Di saat perjalanan Kapal tersebut meledak dengan hebat sehingga menyebabkan kapal tersebut menjadi puing-puing dan juga awak kapalnya pun tenggelam.