Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

SEBUAH PERTEMPURAN SENGIT DI TANAH MEDAN

Penulis : Fairuz Rizqi Bhayangkara (Siswa Kelas VIII)
Editor : Nafa Nuristiana, S.IP

Pada 17 Agustus 1945 Indonesia telah resmi merdeka dari penjajahan dan pada  6 Oktober Muhammad Hasan sebagai wakil pemerintah Sumatra pun kemudiaan mengumunkan berita proklamasi tersebut kepada seluruh rakyat Medan.

                Setelah membacakan teks Proklamasi lalu dia berkata “Dengan ini saya nyatakan berita Proklamasi ini kepada seluruh rakyat Medan bahwa Medan dan seluruh Sumatra telah terbebas dari pengaruh kolonial dan penjajahan”.

                Dan seluruh rakyat Medan dan rakyat Provinsi Sumatera yang ikut mendengarkan pun ikut bersorak dan juga bersyukur setelah mendengar kabar itu dan mereka pun segera gencar menyuarakan  sorakan antikolonial dan dukungan kemerdekaan Indonesia  ke seluruh Medan.

                “Kita sebagai orang Medan telah bebas dari penjajahan, kita merdeka” kata salah satu pemuda Medan.

                Lalu ibu-ibu yang mendengarkan suara itu pun langsung bertanya “Apa yang kamu katakan tadi anak muda?”.

                “Bahwa tadi Muhammad hasan telah membawa berita Proklamasi kemerdekaan Indonesia kepada kita dan dengan ini kita telah terbebas dari penjajahan bu”. Kata pemuda itu.

                Ibu tersebut pun terkejut dan lalu bersujud dengan berkata “Terimakasih Ya Allah telah membebaskan negeri ini dari cengkraman Jepang, terimakasih Ya Allah, terimakasih”.

                Lalu pada tanggal 9 Oktober 1945 Pasukan Sekutu yang terdiri dari Britania Raya dan belanda pun mendarat ke pelabuhan Belawan lalu TED Kelly pun menyampaikan maksud dari kedatangan ini kepada seluruh pasukan “Sesuai dengan kesepakatan yang telah kita dengar dengan Laksamana Lord Louis Mountbatten jadi kalian harus bersungguh-sungguh dalam perang ini rebut Hindia Belanda dan akhiri pemerintahan Indonesia, apakah kalian siap?”.

                “Komandan saya bertanya, apa yang akan kita dapatkan setelah merebut wilayah ini?” kata dari salah satu pasukan.

                “Kita akan mendapat hadiah yang besar nantinya dari Louis Mountbatten, apakah kalian siap untuk bertempur!!!” kata TED Kelly.

                “Siap, komandan” kata seluruh pasukan.

                Lalu mereka pun menyebar ke seluruh wilayah Medan untuk mencari tempat yang pas untuk dijadikan markas. Lalu salah satu dari pasukan Britania Raya menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan markas “Komandan Anand saya telah menemukan tempat yang cocok untuk dijadikan markas tuan” kata salah satu pasukan.

                “Dimana itu?” kata Komandan Anand.

                Lalu dia menujukkan tangannya kearah tempat itu “Disana Komandan”.

                Lalu dia melihat tempat itu dan berpikir “Hmmm…. Sepertinya tempat ini cocok sebuah rumah besar yang salah satu jendelanya menghadap ke kota bagus ini untuk pengintaian oke lah kalau begitu” lalu dia pun berkata “Okelah kita bermarkas di sini tempat ini cocok dan disana juga ada penjara dan juga Hotel Wilhemina cocok ini”.

                “Jadi apakah Komandan  mau bermarkas di sini?” kata pasukan itu.

                Lalu komandan Anand pun berkata “Okelah kita akan bermarkas disini, wahai semua pasukan kita bermarkas disini” lalu mereka pun bermarkas di rumah itu.

                Di sisi lain pasukan yang dipimpin oleh TED Kelly pun menemukan tempat yang cocok dengan salah satu pasukan itu berkata “Komandan saya telah menemukan tempat yang cocok”.

                “Dimana itu?” kata Kelly.

                “Di rumah yang agak Lumayan besar Komandan” kata pasukan itu.

                “Sebentar saya agak ragu dengan rumah yang seperti ini, nanti ada yang menempati” kata Kelly.

                “Tidak mungkin Komandan rumah ini sepertinya sudah tua dan anda lihat ini terlalu statergis” kata pasukan itu.

                Lalu salah satu pasukan dari Britania Raya yang mengetahui melihat pasukan dari Kelly dari kejahuan dan sedang bingung memilih tempat  pun langsung kepikiran untuk mengibarkan  bendera British Raj dan juga bendera Belanda dan Britania raya untuk menyakinkan mereka untuk memilih tempat itu.

                Lalu pasukan Kelly pun melihat bendera itu dan langsung yakin pasti ini tempat yang dimaksud lalu mereka menempati tempat itu.

                Perilaku mereka di sana sangatlah baik pada awalnya dengan TED Kelly bertemu dengan penduduk lokal dengan bertanya “Apakah kamu tahu tempat dimana para tahanan Belanda dipenjara oleh Jepang”.

Lalu dia menjawab “Ooo sangat dekat kok jaraknya mungkin sekitar 3 km dari sini dan penjara itu sangat dekat dengan pasar”.

“Terimakasih atas petunjukknya” kata TED Kelly.

Setelah sampai ke penjara tersebut dengan dua pasukan dari TED Kelly menyodongkan senjata ke penjaga penjara yang bernama Nakamura dan Isako sambil bertanya “Hoii cepat buka pintu ini atau anda akan ditembak!!!”.

“Si…siapa kalian, ada apa kalian datang ke sini” Kata Nakamura.

“Alahhh, gak usah banyak tanya cepat bukakan pintunya atau kamu akan mati di sini”.

“Tidak akan, aku tidak membuka pintu ini sampai kalian memberitahu maksud kedatangan kalian”. Kata Nakamura.

Lalu Nakamura dan Isako juga mensetujui hal itu “Iya aku juga sama tidak akan”.

Lalu TED Kelly pun berpikir sejenak lalu berkata “Ayo prajurit tembak sekarang kalau mereka tidak nurut”.

Kedua prajurit pun mentaati perintah tersebut lalu mereka menembak mati mereka lalu mereka pun masuk ke dalam ruangan penjara lalu pasukan yang bernama Andrew  berkata “Heii, bebaskan kawan-kawan kami”.

Lalu pimpinan penjara yang bernama Satosi Ito tersebut berkata “Apa temanmu yang tidak berdaya ini akan kami bebaskan, itu bukanlah hal yang mudah”.

TED Kelly pun langsung memberi isyarat untuk menembaki seluruh penjaga, dengan sebagian pasukan Jepang yang masih belum siap pasukan TED Kelly pun dengan mudah mengabisi seluruh pasukan Jepang dengan mudah lalu merampas kunci penjara lalu membebaskan seluruh para tahanan Belanda.

Berhari-hari aksi itu terus mereka lalukan sampai mereka juga berhasil membebaskan banyak tawanan dan pada akhirnya mereka merencanakan sesuatu.

“Kita harus berbuat layaknya kita membabat pasukan Jepang tetapi dengan cara yang lebih kasar sedikit”. Kata TED Kelly.

Lalu Komandan Anand bertanya “Kenapa kita harus berbuat seperti itu Kelly, bukankah seperti biasa kepada rakyat local lebih baik”.

Kelly pun dan langsung berteriak “Apakah kamu lupa kita sedang menjalankan misi penting!!!”.

Lalu Komandan  Anand menjawab “Iya aku tahu kita sedang menjalankan misi, tapi apakah kita harus bertindak arogan kepada penduduk sipil”.

“Ya, gimana lagi bro kalau kita pakai cara baik-baik ya bakal gak berhasil lah” kata Kelly.

Komandan Anand pun pasrah “Terserah kau lah aku ikuti kau”.

Lalu besoknya mereka pun memakai cara itu dan beberapa hari setelahnya penduduk lokal sana mulai tidak menyukainya dan membencinya dan pada puncaknya tanggal  13 Oktober 1945 ketika salah satu pejabat Britania Raya yang bernama Smith bersama dengan orang Belanda yang bernama Willem sedang berjalan-jalan di Jalan Bali lalu mereka melihat seorang pemuda yang berbaju putih serta memakai lencana putih.

 Lalu Smith bertanya “Heiii, Siapa kamu, apakah kamu adalah orang Indonesia?’.

“Iya ada perlu apa kalian menemui saya” kata pemuda itu.

Lalu ia pun menarik kerah dari pemuda tersebut dan mencuri lencana tersebut sambil berkata “Akhirnya aku berhasil mendapatkan lencana ini darimu, terimakasih pemuda”.

Lalu pemuda tersebut berkata “Siapa kamu dan apa niatmu untuk mencuri lencana ini”.

“Wahai pemuda kamu tidak perlu tahu soal siapa aku, yang penting aku telah mendapatkan lencana ini”. Lalu diapun menginjak-injak pemuda itu sampai tewas.

Anwar Said melihat temannya yang tidak bernyawa itu langsung berteriak kepada seluruh warga Medan untuk menangkap mereka.

                Lalu setelah banyak orang mendengar hal itu rakyat Medan pun marah lalu mereka mengangakat senjata untuk melawan mereka. Bentrokan pun juga tidak terlerakan di sini lalu pasukan Sekutu pun juga turun tangan untuk melawan mereka  dengan mengirimkan 4 rb tentara.

                3 hari kemudian pasukan TNI Angkatan Darat yang dipimpin oleh Ahmad Tahir pun terjun ke daerah Berastagi dengan semangat yang  gigih dia berkata “Ayo kita berjuang demi Indonesia yang merdeka”.

Seluruh kota Berastagi pun berubah  menjadi medan pertempuran yang mengerikan dengan banyak korban berjatuhan lalu pada malam harinya Smith dan pejabat Belanda itupun tertangkap dan langsung dihukum mati di tempat. Banyak para pejuang dan tentara sekutu pun saling berebut gedung-gedung yang telah diduduki  Jepang.

                Setelah 9 hari pertempuran pasukan Sekutu pun kewalahan lallu Kelly pun mengumpulkan pasukannya ke sebuah gedung lalu Kelly bertanya kepada mereka “Apa yang harus kita lakukan semangat juang mereka terlalu tinggi, mungkin pasukan kita terus ditambah tapi ya ngak gini juga bro”.

                Lalu James pun menjawab “Ya terus gimana komandan, aku pun gak bakal mengira perang bakal secepat itu”.

                “Bagaimana kalau kita membuat ultimatum saja bahwa seluruh pejuang Indonesia harus melucuti senjata mereka sampai waktu yang telah ditentukan?”. Kata Kelly.

                “Bagaimana jika mereka menolak?” kata Stephen.

                “Tenang kita sebenarnya diberi amunisi berupa Tank dan artileri yang sangat banyak, mungkin bisalah untuk menebas perlawanan mereka” lalu Kelly memanggil Antonie “Antonie sini”.

                “Ada apa komandan” kata Antonie.

                “Kau akan ku tugaskan untuk membaca plakat ultimatum ini, kau setuju”.

                “Ok komandan siap laksanakan”.

                “Ini menjadi ultimatum terindah hahaha” pikir Kelly denagn raut wajah gembira.

                Lalu keesokan harinya Antonie pun membacakan ultimatum tersebut “Wahai para penduduk Medan  saya beritahukan bahwa Seluruh pejuang baik tentara Indonesia atau warga sipil yang memiliki senjata atau kelompok-kelompok pejuang Indonesia untuk menyerahkan senjata kalian dalam waktu 24 jam jika tidak maka perang besar akan terjadi”.

                Lalu para tentara dan pejuang Indonesia pun merencanakan statergi bersama di gedung persenjetaan yag telah direbut dari Jepang lalu Anwar said memulai pembicaraan “Bagaimana ini kita tidak menyerahkan senjata tetapi apa statergi yang harus kita gunakan?”.

                “Saya dengar mereka akan mempersiapkan Tank dan artileri yang besar dan banyak untuk menumpas kita” kata Tuan Arifi.

                “Darimana kamu tahu kabar itu?” kata Ahmad Tahir.

                “Dari pelabuhan” kata Arifi.

                “Okelah kalau begitu kita akan berhenti perang sejenak sambil memulihkan tenaga kita tetapi dalam waktu rehat itu kita harus minimal sabotase atau paling tidak merebutnya” kata Ahmad Tahir.

                “Tapi itu mustahil gudang itu mungkin akan dijaga ketat” kata Arifi

                “Kita akan menunggu dan sebelum 24 jam ultimatum itu tiba kita harus melakukan persiapaqn serangan yang matang”. Kata Ahmad Tahir.

                Mereka pun melakuakan istirahat dan juga persiapan dengan sangat cepat sampai akhirnya pasukan Sekutu pun meledakkan meriam pertama banyak pasukan yang meninggal tetapi tidak kocar-kacir. Mereka tetap pada statergi dan bergerilnya dengan sangat tangguh. Mereka berperang selama berhari-hari tetapi Pasukan sekutu menggunakan statergi untuk berdiam di tempat yang tinggi sehingga banyak pasukan Indonesia yang mundur kocar-kacir dalam keadaan tidak siap dan sebagian lagi mengadakan perang gerilya.

                Pada 1 Desember  1945 pasukan sekutu membuat plakat-plakat di pinggiran Kota Medan  yang bernama “Batas Tetap Wilayah Medan” setelah banyak orang melihat hal ini sebagai ancaman akhirnya pasukan yang mundur itu pun kembali ke Medan untuk bertempur merebut tanah mereka kembali.

                Keesokan harinya Achmad Tahir pun berpidato  kepada seluruh pejuang dan pemuda Indonesia “Wahai putera-putera bangsa inilah saatnya!, inilah saatnya! Saatnya kita untuk bangkit merebut kembali tanah kita dari penjajahan” lalu dia menunjuk kea rah plakat itu dan berkata “Ini hanyalah plakat biasa apa yang perlu ditakuti, Tank dan artileri hanya sebuah senjata untuk menghabisi kita, tapi mereka lupa bahwa kita pandai mengenai medan, pandai melihat celah dengan bergerilya, jadi ayo bebaskan kota Medan, merdeka!!!!”.

                Salah satu pemuda lalu berkata “Merdeka” lalu semua yang hadir dalam pidato itu langsung mengucapkan hal yang sama.

                Setelah berbulan-bulan berperang akhirnya para  tokoh tokoh pemimpin mengadakan rapat untuk membahas kemungkinan perundingan dengan Belanda dan juga sekutu.

                “Kita harus mengehntikan pertempuran ini, pilihan kita hanya berunding dengan mereka kasihan para pejuang kalau harus habis tenaga manusianya sedangkan senjata kita aja masih merampas” kata Muhammad Hasan.

                “Aku pun juga setuju, situasi di lapangan juga sangat tampak buruk” kata Muhammad Amir.

                “Jadi kapan kita memulai perundingannya?’ kaat Said.

                “Mungkin besok” kata Muhammad Hasan.

                Keesokan harinya perundingan pun dimulai dengan Muhammad Hasan datang ke hotel Wilhemina dan duduk di meja perundingan. Perundingan pun dimulai dengan pejabat Belanda memulai pembicaraan “Halo selamat datang semua ke dalam meja perundingan, tuan-tuan ”.

                Lalu Muhammad Hasan pun berkata “Tuan-tuan kami bermaksud di sini hanya ini menyampaikan sebuah proposal perdamaian yang mungkin menguntungkan bagi kedua belah pihak yaitu kami dan anda”.

                Pejabat Belanda yang bernama Bergwin pun menjawab “Apa proposal yang kalian akan keluarkan”.

                “Kami mengeluarkan proposal berupa pengakhiran perang secara damai” kata Muhammad Hasan.

                “Hmmm menarik” jawab Bergwin.

                Perundingan pun dimulai dengan sengit dan alot dengan jangka waktu berbulan-bulan dan pada akhirnya mereka sepakat melakukan genjatan senjata pada 15 Februari 1947, walaupun begitu perlawanan sporadis tetaplah terjadi sampai pada akhirnya pada tanggal 28 Maret 1947.

                “Atas perintah dari atasan kami, kami setuju untuk pergi dari tanah ini” lalu Bergwin berjabat tangan dengan Muhammad Hasan.

                “Iya semoga anda selamat dalam perjalanan, walaupun kita bermusuhan tetapi kita tetaplah manusia” kata Muhammad Hasan.

                Anwar said bersama Achmad Tahir berbincang dengan melihat kapal belanda yang akan pergi “Apakah kita berhasil mengusir mereka temanku?” kata Anwar Said.

                “Ya mereka pergi ke tanah mereka untuk selama-lamanya” kata Achmad Tahir.

                Lalu seluruh pasukan sekutu pergi dari Tanah Medan dan kepergiannya disambut dengan sukacita dan gembira atas keberhasilan dalam merebut kemerdekaan.