ولا ينبغي أن يترك النوافل فهي جوابر للفرائض، والفرض رأس المال، والنوافل بمنزلة الربح. ولا يترك الرواتب كما عرف، ولا يترك صلاة الضحى وهي ركعتان أو أربعة أو زيادة، ولا يترك التهجد، وإحياء ما بين العشاءين، وركعتي الصبح فإنهما خير من الدنيا وما فيها، ويدخل وقتهما بطلوع الفجر الصادق، وهو المستطير دون المستطيل.
Imam Al-Ghazali berpesan: Jangan sampai meninggalkan shalat sunnah. Karena shalat sunnah (nawafil) itu adalah penambal (jawabar) bagi kekurangan shalat fardhu. Kalau diibaratkan dagang:
- Shalat Fardhu = Modal Pokok (Ra’sul Mal)
- Shalat Sunnah = Keuntungan (Ar-Ribh)
Jika modal saja tanpa untung, kita tidak maju. Begitu juga fardhu tanpa sunnah, shalat kita banyak bocornya.
Jangan tinggalkan shalat-shalat ini :
- Shalat Rawatib – yang mengiringi shalat 5 waktu (qabliyah ba’diyah)
- Shalat Dhuha – minimal 2 rakaat, bisa 4 rakaat atau lebih
- Shalat Tahajjud (Shalat Malam)
- Menghidupkan waktu antara Maghrib dan Isya’ dengan ibadah
- 2 Rakaat Qabliyah Subuh – Nabi bersabda: “Dua rakaat fajar itu lebih baik dari dunia dan seisinya.” Waktunya masuk sejak terbit Fajar Shadiq (fajar yang menyebar cahaya, bukan fajar kadzib yang memanjang vertikal).
Catatan kaki di kitab (penjelasan pembagian Nawafil ada 3) :
- Nawafil yang sunnah berjamaah : Shalat Ied (2 hari raya), Kusuf (gerhana matahari), Istisqa (minta hujan).
- Nawafil yang ikut fardhu (Rawatib) : Total 17 rakaat (Sunnah – 2 sebelum Subuh, 4 sebelum Dzuhur, 2 setelah Dzuhur, 4 sebelum Ashar, 2 setelah Maghrib, 3 setelah Isya’ termasuk 1 witir).
- Nawafil yang tidak ikut fardhu dan tidak berjamaah : Shalat Tahajjud, Shalat Dhuha, Shalat Tarawih.
Penulis : Imam baihaqi, Imam ibnu majah, Azka Fuadil h