Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Potensi Desa Untuk Wisata

Seorang sesepuh Desa Nglanggeran, Gunungkidul, pernah saya temui beberapa tahun silam. Ia mengenang masa ketika desanya dikenal kering. Anak muda memilih merantau karena air sulit didapat dan masa depan terasa gelap. Saat saya berdiri di Bukit Nglanggeran, kisah itu seperti berhadapan dengan kenyataan baru. Terlihat hamparan hijau, embung yang menyimpan air, dan puluhan pengunjung dari berbagai kota menikmati bentang Gunung Api Purba yang sudah berusia jutaan tahun. Desa yang dulu banyak ditinggalkan sekarang menjadi tujuan yang menarik banyak orang.

Keadaan itu menunjukkan hal penting. Desa di Indonesia menyimpan kekuatan yang sering belum dihitung. Yang menjadi persoalan bukan ada atau tidaknya potensi wisata. Yang lebih penting adalah cara mengubah potensi tersebut menjadi kesejahteraan bagi warga desa.

Desa yang Menemukan Identitasnya

Gejala desa wisata bukan hanya mode sesaat. Ada gerakan besar yang mengubah pandangan tentang desa. Dahulu desa sering dikaitkan dengan ketertinggalan, kemiskinan, dan keterpencilan. Sekarang desa menjadi bagian penting pariwisata Indonesia yang terbuka, berkelanjutan, dan bertumpu pada kearifan lokal.

Kementerian Pariwisata mencatat hingga 2025 ada sekitar 6.155 desa wisata di Indonesia. Jumlahnya bertambah dari 6.148 desa pada 2025 menjadi 6.264 desa pada 2026. Pertumbuhan itu masuk akal. Desa wisata memberi sesuatu yang sulit ditemukan di destinasi umum, yaitu keaslian. Wisatawan tidak hanya melihat pemandangan. Mereka merasakan kehidupan warga, berinteraksi, dan belajar dari kebiasaan serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ada kenyataan yang perlu diperhatikan. Dari lebih dari 4.000 desa wisata yang terdaftar di Jaringan Desa Wisata atau Jadesta, hanya sekitar 400 desa yang sudah masuk klasifikasi maju atau mandiri. Selebihnya masih rintisan dan berkembang. Artinya, banyak desa berpotensi besar belum mendapat dukungan cukup.

Nglanggeran, dari Kekeringan Menjadi Berkah

Kisah Nglanggeran sering dijadikan contoh. Desa di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ini dahulu dikenal kering dan sulit air bersih. Banyak pemuda menjadi pekerja migran karena penghidupan di desa terbatas.

Perubahan mulai terjadi ketika sekelompok pemuda Karang Taruna pada 2008 mencoba mengembangkan pariwisata. Mereka menggarap kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, bentang alam purba dari letusan gunung berapi jutaan tahun lalu. Awalnya tidak mudah. Mereka harus meyakinkan warga dan tokoh desa bahwa pariwisata bisa menjadi sumber ekonomi baru.

Usaha itu membuahkan hasil. Wisatawan naik dari 1.536 orang pada 2008 menjadi 325.303 orang pada 2014. Pendapatan mencapai Rp1,42 miliar. Setelah itu muncul masalah baru, yaitu sampah dan vandalisme. Pengelola tidak berhenti. Mereka mengembangkan wisata alam pedesaan dan pendidikan. Hasilnya, jumlah wisatawan bisa dikendalikan bahkan diturunkan, tetapi pendapatan tetap meningkat.

Sekarang Nglanggeran telah menerima lebih dari 24 penghargaan. Di antaranya Best Tourism Village 2021 dari UN Tourism dan Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021. Yang tidak kalah penting, setidaknya 13 kelompok warga mendapat manfaat langsung, seperti kelompok homestay, kuliner, pengrajin, petani, peternak, seni budaya, dan transportasi. Pariwisata juga membantu menekan urbanisasi dan menurunkan angka perceraian di desa itu.

Data yang Menunjukkan Kekuatan Ekonomi Desa

Keberhasilan Nglanggeran bukan kebetulan. Desa wisata dapat menjadi kekuatan ekonomi. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia Chalim, menyatakan wisata dapat memberi kesejahteraan 5 sampai 6 kali lebih tinggi daripada pertanian dan perkebunan.

Beberapa desa wisata sukses membuktikannya. Desa Wisata Penglipuran di Bali mencatat pendapatan hingga Rp28 miliar per tahun dari pariwisata. Desa Wisata Ponggok di Klaten memperoleh hingga Rp12 miliar per tahun dari wisata air. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memperkirakan desa wisata dapat menyumbang 30 sampai 35 persen pada devisa dan pergerakan ekonomi wisata.

Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat menyebut keberhasilan desa wisata bertumpu pada empat hal. Tata kelola, pengelolaan sumber daya manusia, digitalisasi promosi, dan pelestarian alam. Dana desa juga perlu dipakai sebaik mungkin untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Desa Tertinggal yang Menjadi Juara Nasional

Kisah lain datang dari Desa Melung di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Desa yang dahulu dikenal terisolasi dan miskin kini menjadi ikon pariwisata nasional. Pada 2025, Desa Melung meraih juara pertama Lomba Desa Wisata Nusantara.

Melung berada di lereng selatan Gunung Slamet. Wilayahnya berbukit, udaranya sejuk, dan panorama gunung menjadi latar yang kuat. Sawah terasering membentang mengikuti kontur perbukitan. Vegetasinya didominasi tanaman pangan dan perkebunan rakyat.

Salah satu daya tarik Melung adalah Pagubugan. Di sana lanskap pertanian tidak hanya dipertahankan, tetapi dijadikan pengalaman wisata. Gubug bambu berdiri di tepi pematang sawah. Pengunjung duduk, menyeruput kopi lokal, dan melihat petani bekerja. Di titik ini desa wisata menunjukkan maknanya. Yang dijual bukan hanya pemandangan, tetapi pengalaman dan kehidupan.

Tantangan yang Perlu Dihadapi

Potensi desa wisata besar, tetapi tantangannya juga nyata. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti kurangnya promosi sebagai salah satu kendala utama. Tantangan lain adalah pengembangan sumber daya manusia dan kelembagaan desa wisata.

Kendala itu terasa di tingkat bawah. Banyak desa wisata masih rintisan dan belum memenuhi syarat untuk naik ke level berkembang. Hambatan utama ada pada persyaratan administratif, manajerial, dan fasilitas penunjang yang rumit. Potensi alam dan budaya juga belum dipakai secara optimal karena infrastruktur terbatas dan partisipasi warga belum penuh.

Saran Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan

Dari kisah sukses dan tantangan tersebut, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, membangun tata kelola yang profesional. Desa wisata bukan proyek sementara. Ia perlu dikelola dengan sungguh-sungguh. Pembentukan Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes yang fokus pada pariwisata bisa menjadi langkah awal. Desa Penglipuran, misalnya, membentuk badan usaha desa untuk mengelola berbagai potensi wisata, termasuk kawasan hutan bambu. Langkah itu meningkatkan pendapatan dan memperluas manfaat ekonomi.

Kedua, mengutamakan pengembangan sumber daya manusia. Penggerak wisata desa umumnya belajar sendiri. Mereka perlu pendampingan, pelatihan, dan akses pengetahuan. Kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan pihak swasta dapat membantu meningkatkan kapasitas warga.

Ketiga, memanfaatkan teknologi digital untuk promosi dan pencatatan. Desa wisata tidak bisa hanya mengandalkan informasi dari mulut ke mulut. Media sosial, situs web, dan aplikasi pemesanan membantu menjangkau wisatawan lebih luas. Penglipuran bahkan memakai pembayaran nontunai melalui QRIS dan kartu Visa. Sekitar 40 persen transaksi wisatawan dilakukan secara nontunai.

Keempat, menjaga kelestarian alam dan budaya. Ini yang membedakan desa wisata dari destinasi umum. Keaslian alam dan budaya adalah daya tarik utama. Prinsip pelestarian lingkungan, seperti yang dijalankan Nglanggeran melalui penghijauan, pengolahan sampah, dan standar CHSE, menjadi dasar keberlanjutan.

Kelima, memastikan partisipasi seluruh masyarakat. Tantangan terbesar adalah memberi kesempatan kepada semua kelompok. Jika ada kelompok yang tidak terlibat, dukungan terhadap desa wisata bisa berkurang. Keterlibatan harus terbuka, meliputi petani, pengrajin, pedagang, pemuda, dan perempuan.

Mulai dari Desa, Bangun dari Akar

Kita perlu melihat kembali. Pembangunan sering berpusat di kota besar, padahal desa di seluruh Indonesia menyimpan potensi yang menunggu digali. Desa bukan masa lalu. Desa adalah masa depan. Ketika desa maju, Indonesia ikut maju. Ketika desa sejahtera, kesejahteraan itu menyebar ke berbagai wilayah.

Mulai sekarang, kenali desa di sekitar. Kunjungi desa wisata terdekat. Nikmati keindahannya. Pelajari kearifan lokalnya. Bagikan pengalaman kepada orang lain. Jika memiliki kemampuan dan sumber daya, berkontribusilah untuk pengembangan desa wisata melalui pendampingan, investasi, atau promosi. Jika Anda warga desa yang sedang merintis desa wisata, jangan cepat menyerah. Nglanggeran butuh lebih dari satu dekade untuk sampai ke titik ini. Penglipuran memulai perjalanan sejak 1990-an. Konsistensi menjadi kunci.

Tulis di kolom komentar desa wisata mana yang pernah Anda kunjungi dan kesan apa yang paling membekas. Bagikan artikel ini kepada teman, keluarga, atau siapa pun yang peduli pada kemajuan desa. Membangun desa berarti membangun Indonesia dari akarnya.

f X P WA in