Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Berbuatlah Kebaikan Meski Dicela: Kajian Kitab Bughyatul Mustarsyidin & Syair Penjaga Ilmu

Pernahkah kita membatalkan niat baik hanya karena takut omongan orang? Mau sedekah takut dibilang pamer, mau berangkat jamaah takut dibilang alim-aliman, mau posting kebaikan takut dibilang riya. Jika iya, waspadalah, karena kita sedang masuk dalam jebakan halus setan.

Pesan ini sangat relevan dengan sebuah kalam hikmah yang berbunyi: “JANGAN DENGARKAN OCEHAN ORANG LAIN UNTUK BERBUAT KEBAIKAN.”

Nasehat ini memiliki landasan yang kuat dalam kitab kuning. Mari kita kaji bersama dari Kitab Bughyatul Mustarsyidin karya Al-Imam Al-Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain Al-Masyhur Ba’Alawi.

1. Tipu Daya Setan Yang Paling Halus: Takut Dibilang Riya

Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 8, para ulama menjelaskan sebuah kaidah penting. Termasuk dalam masalah: Seorang laki-laki bertanya kepada Abu Hurairah RA, “Aku ingin belajar ilmu tapi aku takut menyia-nyiakannya.” Maka dijawab: “Cukuplah bagimu dengan meninggalkan ilmu itu, kamu sudah menyia-nyiakannya.”

Lalu Al-Imam berkata :

Termasuk tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena takut orang-orang berkata bahwa ia riya. Sebab, membersihkan amal dari godaan-godaan setan secara keseluruhan adalah sesuatu yang sulit dilakukan. Jika kita menjadikan kesempurnaan sebagai syarat dalam beribadah, niscaya kita akan sulit untuk melakukan satu pun ibadah. Hal itu justru menyebabkan seseorang menjadi malas, dan kemalasan itulah yang menjadi tujuan terbesar setan.

Dalam redaksi Arabnya :

من مكايد الشيطان ترك العمل خوفا من أن يقول الناس إنه مراء، لأن تطهير العمل من نزغات الشيطان بالكلية متعذر، فلو وقفنا العبادة على الكمال لتعذر الاشتغال بشيء من العبادات، وذلك يوجب البطالة التي هي أقصى غرض الشيطان.

Pelajaran dari sini sangat jelas: Tidak ada amal yang 100% bersih dari bisikan setan. Jika kita menunggu ikhlas sempurna baru mau beramal, maka seumur hidup kita tidak akan pernah beramal. Dan membuat kita menganggur tidak beribadah adalah tujuan terbesar setan.

Solusinya bukan meninggalkan amal, tapi terus beramal sambil terus memperbaiki niat. Perbaiki niat, teruslah berbuat baik, dan serahkan penilaian kepada Allah SWT.

2. Adab Orang Berilmu: Jagalah Kemuliaan Ilmu

Masih di halaman yang sama, ada pembahasan penting tentang adab pemegang Al-Qur’an dan orang alim. Disebutkan bahwa termasuk adabnya adalah menjadi pribadi yang mulia jiwanya, tidak merendahkan diri di hadapan penguasa yang zalim dan tidak gila terhadap dunia.

Untuk itu, dinukil sebuah syair indah dari Al-Faqih Al-Jurjani :

وَلَمْ أَبْذُلْ فِي خِدْمَةِ العِلْمِ مُهْجَتِي – لِأَخْدِمَ مَنْ لَاقَيْتُ لَكِنْ لِأُخْدَمَا
أَأَشْقَى بِهِ غَرْسًا وَأَجْنِيْهِ ذِلَّةً – إِذًا فَاتِّبَاعُ الجَهْلِ قَدْ كَانَ أَحْزَمَا
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ العِلْمِ صَانُوْهُ صَانَهُمْ – وَلَوْ عَظَّمُوْهُ فِي الصُّدُوْرِ لَعُظِّمَا
وَلَكِنْ أَهَانُوْا فَهَانُوْا وَدَنَّسُوْا – مُحَيَّاهُ بِالْأَطْمَاعِ حَتَّى تَجَهَّمَا

Artinya :

Tidaklah aku korbankan jiwaku untuk ilmu, agar aku menjadi pelayan bagi setiap orang, tetapi agar aku dimuliakan karenanya.

Apakah aku harus bersusah payah menanam ilmu, namun aku memanennya dengan kehinaan? Jika begitu, maka menjadi orang bodoh jauh lebih baik.

Seandainya para ahli ilmu itu menjaga kemuliaan ilmunya, niscaya ilmu itu akan menjaga mereka. Jika mereka mengagungkannya di dalam hati, mereka pun akan diagungkan.

Namun mereka sendiri yang menghinakan ilmu, maka mereka pun menjadi hina. Mereka kotori wajah ilmu dengan ketamakan dunia, hingga ilmu itu tampak suram.

Syair ini adalah pelengkap yang sempurna. Di satu sisi kita dilarang meninggalkan kebaikan karena omongan orang, di sisi lain kita juga dilarang menjual kemuliaan ilmu demi omongan dan sogokan dunia.

Kesimpulan Untuk Santri

Dari dua nasehat dalam satu halaman Kitab Bughyatul Mustarsyidin ini, kita bisa mengambil kesimpulan :

  • Jangan pernah berhenti berbuat baik. Setan akan selalu punya cara untuk menghentikan kita, termasuk dengan menakut-nakuti kita dengan istilah riya. Lawan dengan tetap berbuat, sambil terus belajar meluruskan niat.

  • Dan bagi para penuntut ilmu, jagalah kemuliaan ilmumu. Berbuat baiklah karena Allah, bukan karena ingin terlihat baik di depan manusia, dan jangan pernah merendahkan ilmumu demi kepentingan dunia yang sesaat.

Semoga Allah mudahkan kita untuk istiqomah dalam kebaikan.

f X P WA in