Pernahkah kita melihat sebuah tulisan kaligrafi di dinding pondok yang terlihat sederhana namun maknanya menampar hati? Baru-baru ini beredar sebuah foto tulisan Arab yang banyak dibagikan santri :
Artinya: “Jika dipermudah, itu adalah nikmat. Jika dipersulit, itu adalah hikmah. Jika diakhirkan, maka itu adalah kebaikan.”
Kalimat ini bukan hadis, melainkan ungkapan hikmah dari para ulama salaf yang sangat relevan dengan kehidupan santri dan kita semua di zaman yang serba ingin cepat ini.
Di Pondok Campurdarat, nilai ini menjadi pegangan penting dalam mendidik santri untuk tidak mudah mengeluh terhadap takdir.
1. Jika Dipermudah, Itu Adalah Nikmat (In Tayassarat Fahiya Ni’mah)
Ketika urusan pondok, hafalan, ujian, atau rezeki terasa mudah, itu adalah nikmat yang wajib disyukuri. Bukan karena kita hebat, tapi karena Allah memudahkan.
Tugas kita adalah bersyukur. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7, jika kita bersyukur maka nikmat akan ditambah. Jangan sampai kemudahan membuat kita sombong dan lupa kepada Sang Pemberi Kemudahan.
Bagi santri, ketika hafalan juziyah lancar, itulah nikmat. Maka perbanyaklah hamdalah dan jaga hafalan tersebut.
2. Jika Dipersulit, Itu Adalah Hikmah (Wa In Ta’assarat Fahiya Hikmah)
Ini bagian yang paling berat. Ketika doa seolah belum terkabul, usaha dagang sepi, atau masalah keluarga datang bertubi-tubi, kita sering bertanya “kenapa?”
Jawabannya adalah hikmah. Allah sedang mengajarkan kita sesuatu. Mungkin Allah ingin mengangkat derajat kita lewat kesabaran, menghapus dosa-dosa kita, atau mengajarkan kita arti ikhtiar yang sesungguhnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa kesulitan kecuali Allah akan menghapus kesalahannya. Jadi, kesulitan bukan hukuman, melainkan madrasah kehidupan.
3. Jika Diakhirkan, Maka Itu Adalah Kebaikan (Wa In Ta’akhkharat Fahiya Khoiroh)
Poin ketiga ini adalah obat bagi kegelisahan. Kita sering memaksakan sesuatu harus terjadi sekarang. Ingin segera lulus, segera bekerja, segera menikah.
Padahal jika Allah akhirkan, itu justru khoiroh atau kebaikan untuk kita. Mungkin kita belum siap menerimanya. Mungkin jika diberikan sekarang, justru akan merusak kita.
Tugas kita hanyalah husnudzon dan terus berdoa. Allah Maha Tahu waktu terbaik untuk hamba-Nya.
Relevansi Nasehat Ini Untuk Kehidupan Santri Modern
Di era media sosial, santri mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain. Melihat teman sudah sukses, kita jadi gelisah.
Dengan memegang tiga prinsip ini, hati menjadi lebih tenang :
Pertama, tidak iri ketika orang lain dipermudah. Kedua, tidak putus asa ketika diri sendiri dipersulit. Ketiga, tidak su’udzon ketika doa belum dikabulkan.
Inilah inti dari tawakal. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, tapi menyerahkan hasil akhir sepenuhnya kepada Allah setelah ikhtiar maksimal.
Semoga tulisan kaligrafi sederhana ini bisa menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya keluarga besar Pondok Campurdarat, untuk selalu ridha terhadap setiap ketetapan Allah. Karena apapun takdirnya, ujungnya pasti baik bagi orang yang beriman.