Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Azan Tunanetra Berbuah Tiket Umrah

Kamu mungkin sering mendengar cerita tentang orang orang hebat yang mampu bertahan dalam keterbatasan. Tapi pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang muadzin tunanetra yang setiap hari harus menempuh perjalanan jauh untuk mengumandangkan azan. Itulah yang dialami oleh seorang pria bernama Muhammad Rifai. Kisahnya benar benar menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Belum lama ini namanya viral di media sosial setelah sebuah unggahan menyentuh hati warganet. Banyak orang yang menangis haru membaca perjuangan hidupnya. Namun di balik kisah viral tersebut ada pelajaran berharga tentang ketulusan dan keajaiban rezeki yang datang dari arah tak terduga.

Sosok Muhammad Rifai dan Perjalanan Setiap Hari

Muhammad Rifai adalah seorang pria berusia 51 tahun yang tinggal di Desa Bonto Mate’ne Kecamatan Mandai Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Ia mengalami kebutaan sejak usia tujuh tahun akibat penyakit cacar air yang menyerang saraf matanya. Meskipun demikian Rifai tidak pernah menjadikan keterbatasannya sebagai alasan untuk berhenti beribadah. Selama kurang lebih dua puluh tahun ia telah menjadi muadzin di Masjid Istiqomah 7. Setiap hari menjelang waktu salat ia berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari rumahnya menuju masjid. Ia tidak menggunakan alat bantu dan tidak didampingi oleh siapa pun. Dengan insting dan hafalan yang ia miliki Rifai menyusuri jalan setapak yang memiliki tiga tikungan sebelum akhirnya sampai ke masjid.

Bayangkan kamu berada di posisi Rifai. Mata tertutup total. Kamu hanya mengandalkan ingatan dan keberanian untuk melangkah. Tapi Rifai melakukannya setiap hari lima waktu tanpa pernah mengeluh. Bahkan ia tetap membersihkan masjid dan menyiapkan segala keperluan jamaah sebelum azan berkumandang. Ketika ditanya mengapa ia begitu gigih Rifai hanya menjawab bahwa ini adalah nikmat besar dari Allah. Ia tidak bisa bekerja maka ia berniat untuk bertakwa kepada Allah melalui jalan yang ia mampu lakukan. Jawaban sederhana itu justru mengandung makna yang sangat dalam. Ketika banyak orang sehat dan kuat masih malas ke masjid Rifai yang buta justru berlari menuju rumah Allah.

Pertemuan Tak Terduga yang Mengubah Hidup

Kisah ini mulai viral setelah seorang pengusaha muda asal Palopo bernama Putri Dakka tanpa sengaja mampir ke Masjid Istiqomah 7 untuk melaksanakan salat Ashar. Saat itu Putri melihat seorang pria yang keluar paling akhir dari masjid. Ia memperhatikan bagaimana pria tersebut meraba raba dinding dan pintu untuk menemukan jalan keluar. Hati Putri pun tergerak untuk menyapa dan berbincang dengannya. Ia kemudian mengikuti Rifai pulang ke rumahnya. Di sana ia melihat kondisi rumah Rifai yang sangat sederhana. Rumah itu dibangun dari kayu dan seng. Rifai tinggal bersama istri dua anak dan seorang ibu yang sudah renta. Untuk makan sehari hari pun keluarganya terkadang masih kesulitan.

Setelah berbincang lebih jauh Putri merasa terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia menawarkan kepada Rifai untuk pergi umrah secara gratis. Tawaran itu benar benar di luar dugaan Rifai. Ia tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di tanah suci. Dengan penuh rasa haru Rifai bersyukur dan mengucapkan terima kasih yang mendalam. Putri menjelaskan bahwa ini adalah ganjaran bagi Rifai yang dengan ikhlas dan tanpa pamrih telah bermanfaat bagi banyak orang. Ia langsung menghubungi travel untuk mempersiapkan koper dan kelengkapan umrah. Tidak hanya itu Putri juga memberikan modal usaha kepada istri Rifai untuk membantu perekonomian keluarga mereka.

Pelajaran Berharga dari Kisah Rifai

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang keberuntungan. Ada banyak pelajaran yang bisa kamu ambil dan terapkan dalam kehidupan sehari hari. Pertama ketulusan tidak pernah sia sia. Rifai tidak pernah mengharapkan imbalan apa pun dari tugasnya sebagai muadzin. Ia hanya ingin beribadah dan bermanfaat bagi orang lain. Justru dari ketulusan itulah rezeki datang menghampirinya. Allah tidak pernah tidur. Setiap kebaikan sekecil apa pun akan dibalas dengan cara yang tidak pernah kita duga.

Kedua keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkontribusi. Rifai membuktikan bahwa meskipun matanya tidak bisa melihat ia tetap bisa menjadi orang yang bermanfaat. Suaranya yang merdu mengumandangkan azan menjadi panggilan bagi banyak orang untuk mendirikan salat. Bahkan seorang tunanetra seperti dia mampu menjadi pengingat bagi mereka yang memiliki penglihatan sempurna namun lalai dalam beribadah.

Ketiga rezeki bisa datang dari arah yang tidak terduga. Putri Dakka adalah orang yang baru dikenal Rifai. Mereka tidak memiliki hubungan keluarga atau pertemanan sebelumnya. Tapi pertemuan singkat di masjid itu mengubah hidup Rifai selamanya. Ini mengajarkan bahwa kamu tidak pernah tahu siapa yang akan menjadi perantara rezekimu. Maka jaga sikapmu di mana pun kamu berada. Bisa jadi orang asing yang kamu temui hari ini adalah jalan yang Allah kirimkan untuk membantumu.

Keempat pentingnya berbagi kepada sesama. Putri Dakka adalah contoh nyata seseorang yang peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya. Ia tidak menutup mata ketika melihat penderitaan orang lain. Justru ia tergerak untuk membantu. Kalau kamu memiliki kelebihan rezeki jangan ragu untuk berbagi. Tidak harus berupa umrah atau hadiah besar. Bahkan senyuman bantuan kecil atau perhatian tulus bisa sangat berarti bagi orang lain.

Refleksi untuk Kehidupan Sehari-hari

Coba kamu renungkan kembali bagaimana Rifai menjalani hidupnya. Setiap hari ia bangun dalam kegelapan. Ia tidak bisa melihat wajah anak anaknya. Ia tidak bisa menikmati indahnya pemandangan. Tapi ia tidak mengeluh. Ia justru bersyukur dan terus berusaha memberikan yang terbaik. Bandingkan dengan dirimu yang masih diberi penglihatan pendengaran dan kesehatan yang baik. Sudahkah kamu memanfaatkan semua itu untuk hal hal yang bermanfaat. Sudahkah kamu bersyukur atas nikmat yang sering kali kamu anggap remeh.

Kisah Rifai juga mengajarkan tentang pentingnya konsistensi. Dua puluh tahun bukan waktu yang sebentar. Ia telah melewati berbagai musim dan tantangan. Tapi ia tidak pernah berhenti. Ia tetap setia mengumandangkan azan setiap waktu salat. Inilah yang sering kali kita lupakan. Kita mudah bersemangat di awal tapi cepat menyerah di tengah jalan. Padahal kunci dari segala keberhasilan adalah konsistensi. Lakukanlah kebaikan sekecil apa pun asalkan kamu melakukannya dengan istiqamah.

Dan yang terakhir jangan pernah meremehkan doa dan usaha orang lain. Rifai mungkin tidak pernah berdoa meminta tiket umrah. Tapi Allah tahu apa yang terbaik untuk hamba Nya. Ketika Rifai terus berusaha dan berserah diri Allah mengirimkan seseorang untuk mewujudkan impiannya. Maka teruslah berbuat baik dan berdoalah. Karena pertolongan Allah bisa datang kapan saja dan melalui siapa saja.

Kisah Muhammad Rifai adalah pengingat bagi kita semua bahwa hidup ini bukan tentang seberapa sempurna kondisi kita. Hidup ini tentang seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada orang lain. Dengan segala keterbatasannya Rifai telah menjadi inspirasi bagi ribuan orang. Suaranya yang mengumandangkan azan telah menjadi bukti bahwa ketulusan mampu menembus langit dan menggetarkan bumi. Semoga kisah ini menjadi motivasi bagi kamu untuk terus berbuat baik dan tidak pernah menyerah dalam keadaan apa pun.

Daftar Pustaka:

  1. Liputan6.id. (2024). Kisah Haru Muadzin Tunanetra Muhammad Rifai, Tiba-Tiba Diberangkatkan Umrah oleh Orang yang Baru Dikenal. Diakses dari https://today.liputan6.com/5823897

  2. iNews.id. (2024). Kisah Haru Muadzin Tunanetra Jalan Kaki Ratusan Meter ke Masjid hingga Dapat Hadiah Umrah. Diakses dari https://www.inews.id/amp/regional/sulsel/kisah-haru-muadzin-tunanetra-jalan-kaki-ratusan-meter-ke-masjid-hingga-dapat-hadiah-umrah

  3. TribunJabar.id. (2024). Kisah Pak Rifai, Muadzin Tunanetra di Maros Tiap Hari “Meraba” Jalan ke Masjid, Dapat Umrah Gratis. Diakses dari https://jabar.tribunnews.com/2024/03/24/kisah-pak-rifai-muadzin-tunanetra-di-maros-tiap-hari-meraba-jalan-ke-masjid-dapat-umrah-gratis

f X P WA in