Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

BPBD Tulungagung Latih Siswa SMP Islam KH Ahmad Badjuri Tanggap Bencana Lewat Program SPAB

TULUNGAGUNG – Upaya mewujudkan sekolah yang aman dan tangguh terhadap bencana terus digalakkan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tulungagung menggelar Pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMP Islam KH Ahmad Badjuri, Campurdarat, Tulungagung.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu-Kamis, 21-22 Oktober 2026 ini dipusatkan di kampus SMP Islam KH Ahmad Badjuri, Jl. Raya Popoh No. 13, Dusun Blumbang, Campurdarat.

Pelatihan ini hasil kolaborasi antara BPBD Tulungagung, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Tulungagung, dan LAZNAS Lembaga Manajemen Infaq (LMI). Fokusnya membekali warga sekolah agar siap menghadapi potensi bencana seperti angin puting beliung, gempa bumi, banjir hingga tsunami.

Acara diawali laporan pelaksanaan oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Tulungagung, Wulan Krisna Pratiwi, S.T. Dilanjutkan sambutan Kepala SMP Islam KH Ahmad Badjuri, H. Fadllan Achadan, S.TP., M.A., dan secara resmi dibuka oleh Kepala Pelaksana BPBD Tulungagung, Achmad Mugiyono, S.STP., M.M.

Kepala SMP Islam KH Ahmad Badjuri, H. Fadllan Achadan menyambut baik program ini. Menurutnya, lokasi sekolah yang berada di wilayah pesisir selatan memiliki potensi ancaman yang harus dipahami sejak dini oleh siswa dan guru.

“Lewat SPAB ini kami jadi lebih paham ancaman apa saja yang ada di lingkungan sekolah, terutama puting beliung, gempa dan banjir. Harapannya ilmu ini tidak hanya jadi teori, tapi bisa diterapkan untuk mewujudkan sekolah yang aman dan tangguh bencana,” ujar Fadllan.

Di hari pertama, peserta dibekali materi pengenalan ancaman dan kajian risiko bencana oleh Ketua FPRB Tulungagung, Susanto yang juga dari Humanitarian Program LMI. Peserta diajak mengenali risiko di sekitar sekolah dan langkah mitigasi yang harus dilakukan.

Selain itu, sekolah juga mulai membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah (Tim SIBAS) sebagai garda terdepan ketika terjadi kondisi darurat.

Memasuki hari kedua, pelatihan lebih banyak praktik. Mulai dari Medical First Responder (MFR), praktik CPR atau resusitasi jantung paru, cara membalut luka dan memasang bidai, membuat tandu darurat dari tongkat dan tali, hingga praktik mendirikan tenda besar dan cara menggunakan APAR dan APAT.

 

Semua materi praktik dirancang agar siswa dan guru tidak panik saat menghadapi kondisi darurat, serta tetap mengutamakan keselamatan diri dan orang lain.

Dengan adanya program SPAB ini, SMP Islam KH Ahmad Badjuri di bawah naungan Pondok Pesantren Campurdarat diharapkan menjadi contoh sekolah pesantren yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tapi juga siap dan tanggap dalam menghadapi bencana.

f X P WA in