Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Apakah Makan Sahur Sudah Dianggap Niat Puasa? Kajian Kitab I’anatut Thalibin

Pernahkah kita bangun kesiangan, langsung makan sahur terburu-buru tapi lupa melafalkan niat puasa? Lalu bertanya-tanya, sah puasa saya atau tidak ?

Pertanyaan “Apakah makan sahur bisa menjadi pengganti niat puasa?” ini sering muncul di kalangan santri. Jawabannya ada dalam kitab yang menjadi rujukan kita di Pondok, yaitu Kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin ala Halli Alfadz Fathul Mu’in, Juz 2, Bab Puasa.

Penjelasan dalam Kitab

Syaikh Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin menjelaskan dengan mengutip ibarat dari Kitab Raudhah beserta syarahnya :

ولو تسحر ليصوم، أو شرب لدفع العطش نهارا، أو امتنع من الأكل أو الشرب أو الجماع خوف طلوع الفجر، فهو نية – إن خطر بباله صوم فرض رمضان، لتضمن كل منها قصد الصوم

Artinya: “Jika seseorang makan sahur dengan tujuan agar bisa berpuasa, atau ia minum untuk mencegah haus di siang hari, atau ia menahan diri dari makan, minum, atau jimak karena khawatir fajar telah terbit, maka itu sudah dianggap sebagai niat, JIKA terlintas di hatinya puasa fardhu Ramadhan.”

Rincian Hukumnya Biar Tidak Gagal Paham

Dari ibarat tersebut, para ulama merinci menjadi 2 keadaan :

1. Sahur yang DIANGGAP sebagai Niat (Puasanya SAH)

Makan sahur bisa menggantikan lafal niat, asal memenuhi 2 syarat :

  • Saat makan sahur, di dalam hatinya memang ada keinginan untuk berpuasa. Contoh dalam hati: “Saya makan sahur ini supaya kuat puasa besok.

  • “Terlintas di hatinya bahwa puasa yang akan ia kerjakan adalah puasa fardhu Ramadhan. Tidak harus dilafalkan, cukup dalam hati.

Jika dua hal ini ada, maka makan sahurnya sudah sah menjadi niat, meskipun ia tidak mengucapkan Nawaitu Shauma Ghadin…

2. Sahur yang TIDAK dianggap sebagai Niat (Puasanya TIDAK SAH)

Jika seseorang makan sahur hanya karena kebiasaan, lapar, atau sekedar ikut-ikutan teman tanpa terlintas sama sekali di hatinya akan berpuasa besok, maka itu bukan niat. Dalam kitab ditegaskan dengan kalimat :

وليس كذلك

“Dan tidak demikian (tidak cukup hanya makan sahurnya saja).”

Niat itu tempatnya di hati, bukan di perut. Puasa adalah imsak (menahan) yang disertai niat yang khusus. Jadi, jika sekedar kenyang tanpa ada tujuan puasa, maka puasanya tidak sah.

Kesimpulan

Makan sahur bisa menjadi pengganti niat puasa, tetapi tidak otomatis. Kuncinya adalah lintasan hati.

Jika saat sahur hati kita sadar dan berniat “sahur ini untuk puasa Ramadhan besok”, maka itu sudah cukup dan puasa kita sah. Namun, untuk kehati-hatian dan mengikuti kesunnahan, tetap usahakan melafalkan niat di malam hari setelah Tarawih, sebagaimana yang diajarkan para masyayikh.

Semoga puasa kita diterima Allah SWT. Jangan sampai sudah menahan lapar dan haus seharian, tapi tidak sah karena lalai dalam niat.

Wallahu A’lam Bish Shawab.

Referensi: Hasyiyah I’anatut Thalibin Ala Fathil Mu’in, Juz 2, Bab Ash-Shaum, Halaman 250-251.

Penulis : Imam Baihaqi

f X P WA in