Banyak orang bertaubat, tapi di tangannya masih ada harta yang tercampur antara halal dan haram. Bagaimana cara membersihkannya? Imam Al-Ghazali menjelaskan rinci di Ihya’ Ulumuddin.
Teks Kitab Hal. 88:
فصل في الخروج من المظالم المالية
اعلم أن من تاب وفي يده مال مختلط فعليه وظيفة في تمييز الحرام وإخراجه، ووظيفة أخرى في مصرف المخرج.
Ketahuilah, orang yang bertaubat dan di tangannya ada harta campur (halal-haram), dia punya 2 tugas: 1. Memisahkan mana yang haram, 2. Menyalurkan harta haram tersebut ke tempat yang benar.
WAZIFAH PERTAMA : Cara Memisahkan & Mengeluarkannya
1. Jika Harta Haramnya Jelas Orangnya :
Misal hasil ghosob, mencuri, atau titipan (wadi’ah) yang tidak dikembalikan. Maka ini mudah, kembalikan langsung kepada pemiliknya.
2. Jika Harta Haramnya Tercampur Tidak Jelas :
Misal dia tahu setengah hartanya haram karena dulu dagangnya ada bohong dan khianat, tapi tidak ingat persis berapa jumlahnya. Maka:
فعليه تمييز ذلك القدر، وإن لم يعلم قدره أخذ بالاحتياط وغالب الظن واليقين.
Wajib dia perkirakan dengan sikap hati-hati (ihtiyath), prasangka kuat (gholibuz zhon), dan yakin. Lebih baik melebihkan yang dikeluarkan daripada kurang.
WAZIFAH KEDUA: Kemana Harta Haram Itu Disalurkan?
Ini yang sering salah paham :
- Jika ada pemiliknya yang jelas: Wajib dikembalikan kepadanya. Jika sudah meninggal, berikan ke ahli warisnya. Jika pemiliknya jauh / ghaib, tunggu sampai datang atau usahakan kirim ke tempatnya.
- Jika tidak ada pemilik yang jelas (misal hasil riba, suap, judi) :
تصدق به أو صرفه إلى مصالح المسلمين من الرباطات والمساجد والقناطر
Maka sedekahkan, atau salurkan untuk kemaslahatan umat seperti untuk pondok / ribath, masjid, jembatan / fasilitas umum. Bukan untuk masjid sebagai sedekah yang mengharap pahala, tapi sebagai upaya membuang kotoran harta.
Dan lebih baik lagi diserahkan kepada Qodhi / Hakim yang amanah. Kalau diserahkan ke Qodhi yang khianat, maka tanggung jawabnya belum lepas di hadapan Allah.
Dalil Bolehnya:
Imam Ghazali menyebutkan hadis, Rasulullah ﷺ pernah diberi hadiah kambing guling (musollah). Lalu kambing itu berbicara bahwa dia haram (hasil curian). Maka Rasulullah bersabda :
أَطْعِمُوْهَا الْأُسَارَى
“Berikan makan kepada para tawanan perang saja”
Artinya harta haram tidak boleh dimakan pemiliknya, tapi boleh diberikan kepada yang membutuhkan untuk kemaslahatan, bukan untuk mencari pahala sedekah.
Pelajaran Untuk Kita :
Jadi taubat saja tidak cukup. Kalau pernah makan hak orang, atau ada harta riba / tidak jelas, wajib dikeluarkan. Taubatnya baru sah kalau hak adami sudah dikembalikan atau dibersihkan.
Wallahu A’lam.
Sumber: Ihya Ulumuddin Juz 2, Bab 14, Fasal fi Al-Khuruj minal Madzalim Al-Maliyah, Hal. 88 – Pondok Campurdarat.