Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti : Mengajar Bahasa Jawa dengan Kelembutan untuk Menumbuhkan Karakter Unggul Siswa

Penulis : Himmatus Sholikhah, S.Pd 

Pepatah Jawa “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak dalam keberanian atau keperkasaan, melainkan dalam kelembutan hati. Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti adalah peribahasa Jawa yang berarti segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka dapat dikalahkan dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan kesabaran, atau kebaikan dan kebenaran. Nilai ini sangat relevan dalam dunia pendidikan, terutama dalam pembelajaran bahasa Jawa. Bahasa yang sarat unggah-ungguh ini mampu membentuk karakter siswa, asalkan diajarkan dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, peran guru dan siswa SMP Islam KH. Ahmad Badjuri dalam menghidupkan suasana pembelajaran yang penuh kelembutan, kebaikan dan kasih sayang sangat dibutuhkan.

Pembelajaran bahasa Jawa sering dianggap sulit, kuno, atau kaku. Banyak siswa yang merasa asing dengan krama, tembang, maupun aksara Jawa. Namun, tantangan itu justru membuka peluang untuk menghadirkan pendekatan yang lebih hangat di SMP Islam KH. Ahmad Badjuri. Dengan sentuhan kelembutan, pelajaran yang semula dianggap rumit dapat berubah menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan.

Metode praktik langsung menjadi salah satu cara yang efektif. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan, melainkan benar-benar diajak menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Dialog sederhana antara teman sebaya, permainan tradisional yang komunikasinya memakai bahasa Jawa, atau drama kecil di kelas menjadi sarana belajar yang  lebih hidup. Bahasa tidak lagi terasa asing, melainkan hadir dalam keseharian siswa-siswi SMP Islam KH. Ahmad Badjuri.

Selain praktik langsung, pendekatan tutor teman sebaya juga membawa suasana baru. Siswa yang lebih menguasai materi mendampingi teman-temannya yang masih kesulitan. Interaksi ini menciptakan kebersamaan, rasa empati, dan keberanian untuk belajar tanpa rasa takut. Tutor sebaya menjadikan kelas lebih dinamis, karena siswa belajar dari siswa lain dengan bahasa yang lebih akrab.

Metode ini juga membantu mencairkan suasana pembelajaran. Sering kali siswa lebih berani bertanya atau mencoba saat bersama teman, daripada ketika harus berhadapan langsung dengan guru. Proses belajar pun terasa lebih alami. Guru berperan sebagai pengarah, sementara interaksi antar siswa menjadi pusat kegiatan.

Kelembutan terlihat pula ketika kesalahan diperlakukan sebagai bagian dari proses belajar. Alih-alih menimbulkan rasa malu, kesalahan dijadikan bahan untuk memperbaiki diri. Saat ada yang salah menggunakan unggah-ungguh basa atau keliru membaca aksara, teman sebaya maupun guru membimbing dengan sabar. Dari sinilah muncul keberanian untuk terus mencoba.

Pembelajaran bahasa Jawa dengan pendekatan ini tidak hanya melatih keterampilan berbahasa. Lebih dari itu, siswa belajar menghargai orang lain, bersikap sopan, dan rendah hati. Unggah-ungguh basa melatih mereka untuk memahami kapan harus menggunakan krama, kapan harus menggunakan ngoko, serta bagaimana menyampaikan pendapat dengan santun.

Nilai dari pepatah “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” benar-benar tercermin di sini. Kelembutan terbukti mampu melebur rasa takut, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menciptakan hubungan yang harmonis di kelas. Siswa belajar bahwa keunggulan bukanlah soal siapa yang paling keras suara atau paling cepat menguasai materi, melainkan siapa yang mampu menghargai dan menolong orang lain.

Hasil dari penerapan metode ini terlihat dalam perubahan sikap siswa. Kelas yang tadinya cenderung pasif menjadi lebih aktif. Percakapan dalam bahasa Jawa mengalir lebih lancar, dan siswa lebih berani mencoba. Lebih penting lagi, mereka belajar mempraktikkan sopan santun dalam kehidupan nyata, tidak hanya di dalam kelas.

Mengajarkan bahasa Jawa dengan kelembutan berarti merawat budaya sekaligus menumbuhkan karakter unggul. Praktik langsung dan tutor sebaya menjadikan pembelajaran lebih hidup, menyenangkan, dan bermakna. Pada akhirnya, bahasa Jawa tidak hanya dipelajari sebagai mata pelajaran, melainkan dihidupi sebagai sikap, kebiasaan, dan cermin kepribadian. Dengan cara inilah falsafah Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti menemukan maknanya di dunia Pendidikan SMP Islam KH. Ahmad Badjuri.

Sumber :

Ranggawarsita.(1873). Serat Witaradya. Surakarta : Arsip Keraton Kasunanan Surakarta. diakses melalui  https://aswajamudaunwahas.com/sura-dira-jayaningrat-lebur-dening-pangastuti/

Surur, A. M., Wulandari, R., Rofiah, T. D., & Triani, D. A. (2023). Pengembangan Media Interaktif Aksara Jawa Berbasis Multimedia Terhadap Hasil Belajar. Piwulang : Jurnal Pendidikan Bahasa Jawa, 11(2), Article 2. https://doi.org/10.15294/piwulang.v11i2.71622