Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Shalat Bukan Hanya Gerakan: Cara Menghadirkan Hati Agar Shalat Tidak Hanya Dapat Capek

فصل في الشروط الباطنة من أعمال القلب – فمنها: الخشوع

Imam Al-Ghazali dalam Mukhtashar Ihya’ menjelaskan bahwa shalat tidak hanya butuh syarat dzahir (wudhu, tutup aurat, menghadap kiblat), tapi juga syarat batin dari amalan hati. Inti dari syarat batin itu adalah Al-Khusyu’.

Allah berfirman :

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي 

“Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)

Dan Nabi SAW bersabda :

كَمْ مِنْ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صَلَاتِهِ التَّعَبُ وَالنَّصَبُ 

“Betapa banyak orang yang shalat, bagian dari shalatnya hanyalah capek dan letih.”

Kenapa ? Karena shalat itu hakikatnya adalah dzikir, munajat, dan munajah (berbisik) dengan Allah. Itu tidak akan terjadi kecuali dengan Hudhurul Qalbi (Hadirnya Hati). Semakin bertambah ilmu tentang Allah, maka akan bertambah rasa khasyyah (takut) dan khusyu’.

Poin Penting dari Fasal ini

1. Ketika Mendengar Adzan :

Hendaknya kita menghadirkan hati bahwa panggilan adzan itu seperti panggilan (nida’) dahsyat di hari Kiamat. Siapa yang bersegera menjawab panggilan adzan di dunia dengan lembut, maka dia akan dipanggil dengan lembut di hari Aradhul Akbar (Hari Penampakan Amal). Jika hati kita merasa gembira dan rindu saat adzan, itulah tanda qurratu ‘aini (penyejuk mata) dalam shalat. Karena itu Nabi berkata: “Arihna biha ya Bilal” – Istirahatkan kami dengannya wahai Bilal.

2. Thaharah (Bersuci) :

Thaharah batin adalah membersihkan sirr (rahasia hati) dari selain Allah. Jika kita menutup aurat dzahir dengan pakaian, maka kita juga harus menutup aib batin kita di hadapan Allah. Sadari bahwa Allah melihat dzahir dan batin kita. Malulah jika berdiri di hadapan Raja diraja dengan hati yang masih kotor.

Jangan sampai kita berdusta dalam ucapan: “Wajjahtu wajhiya…” dan “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi Rabbil ‘alamin”, padahal hati kita masih menghadap selain Allah.

3. Saat Ruku’ dan Sujud :

Hendaknya mengingat Kebesaran dan Keagungan Allah saat ruku’ dan sujud, dan menyadari betapa kecilnya diri kita. Dengan itu akan hadir rasa tawadhu’ dan adab di hadapan-Nya.

Rasulullah bersabda: “Innallaha Ta’ala muqbilun ‘alal mushalli ma lam yaltafit” – Sesungguhnya Allah menghadap kepada orang yang shalat selama dia tidak menoleh (hatinya). Maka jagalah dzahir dan batin dari berpaling.

Dan sabda Nabi: “Innal ‘abda layushalli wa la yuktabu lahu min shalatihi la nisfuha wa la tsulutsuha… wa innama yuktabu lirrajuli min shalatihi ma ‘aqala minha” – Sesungguhnya seorang hamba shalat dan tidak ditulis baginya setengah, sepertiga, seperempat… kecuali apa yang dia pahami (khusyu’) dari shalatnya.

Kesimpulan :

Shalat yang diterima bukan hanya gerakannya yang benar, tapi hatinya yang hadir. Latihlah hudhurul qalbi sejak takbir.

PENULIS : imam baihaqi, imam ibnu majah, azka fuadil hasan.

f X P WA in