Gemuruh sukacita resepsi pernikahan bagaikan lautan cahaya dan tawa. Namun, di tengah gelombang kebahagiaan itu, seorang pria tampan dengan setelan necis bagai terpisah oleh sebuah sekat yang tak kasat mata. Sorot matanya, penuh dengan gejolak hormat dan rasa bersalah yang tertahan puluhan tahun, menembus keramaian dan tertambat pada seorang lelaki tua yang duduk sendirian di sudut ruangan. Wajahnya yang berkerut adalah peta perjalanan waktu, tetapi di baliknya, tersimpan sebuah rahasia yang menyelamatkan nyawanya.
Dengan langkah berat bagai menempuh jarak seratus tahun, pria itu mendekat. Tubuhnya membungkuk dalam-dalam, seakan ingin menyentuh tanah, menjabat tangan gurunya yang sudah berkeriput dengan erat.
“Pak Guru,” bisiknya, suaranya serak oleh emosi. “Apakah Bapak masih mengingat saya?”
Sang guru menyunggingkan senyum hangat, namun matanya menyiratkan kabut kelupaan. “Wajahmu… sangat familiar, Nak. Maafkan Bapak, ingatan ini sudah banyak yang terkikis.”
Bersambung Klik Disini…