Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Penerapan Genre- Based Approach (GBA) untuk Meningkatkan Kemampuan Maharoh Kitabah para Siswa dan Siswi di SMP Islam KH. Achmad Badjuri

Penulis: Roisatul Mu’awwanah, M.Pd

Keterampilan Bahasa yang harus dikuasai oleh peserta didik, khususnya dalam mata Pelajaran Bahasa Arab, meliputi empat keterampilan utama, yaitu keterampilan mendengarkan (Maharoh Istima’), keterampilan membaca (Maharoh Qiro’ah), keterampilan berbicara (Maharoh Kalam), dan keterampilan menulis (Maharoh Kitabah). Dari beberapa keterampilan tersebut, yang termasuk golongan, tahapan paling sulit ada di keterampilan menulis, Dimana kerap kali dijumpai siswa bisa berbicara tapi kesulitan pada penulisan, terampil menulis tapi kurang di pelafalan. Nah, dengan metode Genre- Based Approach ini pendidik berusaha menyelaraskan antara kemampuan qiro’ah, kalam, dan kitabah para peserta didik.

Menurut penuturan Tuan Trong, bahwasanya pendekatan Genre- Based Approach ini menekankan pada hubungan antara jenis teks dan konteksnya.[1]Dan menurut Nurul Hidayati dalam jurnalnya, beliau mengatakan bahwa untuk dapat membantu para peserta didik dapat menulis, terutama Bahasa asing dengan baik dan benar, maka guru harus menggunakan model pembelajaran yang tepat karena hanya mengajarkan teori menulis saja tidak cukup.[2] Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang Bahasa dan penggunaanya dalam berbagai konteks. Dengan mempelajari genre-genre teks yang berbeda, peserta didik dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam Menyusun teks yang sesuai dengan situasi dan tujuan komunikatif mereka.

Dan dalam pembelajaran Bahasa Arab ini, pendidik menerapkan model GBA dengan Building knowledge of the field (BKOF). Tujuan tahap ini adalah membangun pengetahuan atau latar belakang pengetahuan siswa yang berhubungan dengan topik yang akan ditulisnya. Langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Peserta didik diberikan teks berkenaan dengan topik yang akan ditulisnya.

  2. Peserta didik membaca teks, kemudian diberi pertanyaan tentang teks itu. Dalam tahap ini guru bisa menilai kemampuan qiro’ah peserta didik.

  3. Peserta didik mengidentifikasi kata atau ungkapan yang tidak dimengerti.

  4. Memperdengarkan teks monolog untuk meningkatkan keterampilan menyimak

  5. Menggunakan native speaker untuk berbicara mengenai topik yang akan dibahas

  6. Diskusi secara lisan mengenai topik yang sedang dibahas

  7. Mengajukan pertanyaan yang jawabannya ekplisit untuk meningkatkan kemampuan berfikir kritis.

 

Dalam pembelajaran Bahasa Arab di SMP Islam KH.Achmad badjuri ini pendidik sudah menerapkan pendekatan pembelajaran GBA ini. Setelah diterapkan Pendekatan Genre Based Approach,  Peserta didik berani mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dengan baik dan benar penuh percaya diri. Peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran karena metode diskusi menjadikan mereka bebas untuk saling memberikan pendapat, Peserta didik dapat menjawab soal dari tingkat faktual hingga meta kognitif atau HOTS.

 

Daftar Rujukan:

Istiqlaliah Nurul Hidayati, Mursidah Rahmah, ‘Implementasi Model Pembelajaran Genre-Based Spproach Dalam Pengajaran Menulis Teks Iklan (Advertisement) Melalui Lesson Study’, Jurnal Pengabdian Masyarakat, 04.No. 01 (2023), 61–69

Salsabila, Farah, ‘Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Genre’, Www.Kompasiana.Com, 2022 <https://www.kompasiana.com/farahsalsabila2210/63182ba228c4f516fc370973/pembelajaran-bahasa-inggris-berbasis-genre#:~:text=Genre Based Approach (GBA) adalah,membangun pengetahuan dan keterampilan siswa.&text=Tujuan tahap ini adalah membangun,untuk meningka>

Trong, Luu Tuan, Teaching Writing Through Genre-Based Approach, 2010

Mengelola Waktu dengan Bijak: Inspirasi dari Kehidupan Rasulullah SAW

Waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia. Namun, seringkali kita tidak menyadari betapa berharganya waktu hingga akhirnya terbuang sia-sia. Dalam Al-Quran, Allah SWT mengingatkan kita tentang pentingnya waktu melalui firman-Nya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati … Read more

Peran Dinasti Abbasiyah sebagai Pusat Intelektual dan Kebangkitan Budaya Islam

Dinasti Abbasiyah (750–1258 M) adalah salah satu tonggak sejarah Islam yang memainkan peran signifikan dalam perkembangan intelektual dan kebangkitan budaya Islam. Berdiri setelah runtuhnya Dinasti Umayyah, Abbasiyah menjadi pusat keilmuan, kebudayaan, dan peradaban yang melahirkan banyak kontribusi besar bagi dunia. Artikel ini akan membahas peran Dinasti Abbasiyah sebagai pusat intelektual dan kebangkitan budaya Islam secara … Read more

Pendidikan Jasmani Meningkatkan Kualitas Hidup

Penulis : Ficki Qoirul Idzam S.Pd

Guru bidang pendidikan jasmani SMP Islam KH. Ahmad Badjuri Campurdarat

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dalam kurikulum pendidikan yang bertujuan untuk mengembangkan kesehatan fisik dan mental individu. Selain untuk meningkatkan kebugaran tubuh, pendidikan jasmani juga berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Hal ini dapat tercapai karena pendidikan jasmani tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memperhatikan keseimbangan antara kesehatan mental, emosional, dan sosial. Dengan demikian, pendidikan jasmani dapat menjadi alat yang efektif untuk mencapai kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas.

  • Manfaat Pendidikan Jasmani terhadap Kualitas Hidup
    1. Meningkatkan Kesehatan Fisik

Manfaat utama dari pendidikan jasmani adalah peningkatan kebugaran fisik. Melalui olahraga dan latihan fisik yang teratur, tubuh menjadi lebih sehat, kuat, dan memiliki daya tahan yang lebih baik. Tubuh yang sehat tentu saja akan membantu seseorang untuk menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih produktif dan bugar. Menurut Abidin (2015), “Pendidikan jasmani berfungsi tidak hanya untuk meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga untuk mengembangkan sikap mental yang positif serta keterampilan sosial yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.” Kesehatan fisik yang optimal juga dapat mengurangi risiko penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan jantung.

    1. Meningkatkan Kesehatan Mental

Selain meningkatkan kesehatan fisik, pendidikan jasmani juga berperan dalam memperbaiki kesehatan mental. Aktivitas fisik yang dilakukan selama pendidikan jasmani dapat merangsang tubuh untuk melepaskan endorfin, hormon yang berperan dalam meningkatkan perasaan bahagia dan mengurangi stres. Sebuah penelitian oleh Sulaeman (2019) menyatakan, “Olahraga memiliki efek besar terhadap kesehatan mental, salah satunya adalah penurunan tingkat kecemasan dan stres, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup individu.” Dengan rutin berolahraga, seseorang dapat mengurangi tingkat kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis lainnya. Oleh karena itu, kesehatan mental yang baik akan memberikan dampak positif terhadap kualitas hidup seseorang.

    1. Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Kerjasama

Melalui pendidikan jasmani, individu juga dapat mengembangkan keterampilan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Dalam berbagai kegiatan olahraga, seseorang diajarkan untuk bekerja sama dalam tim, menghargai perbedaan, dan memiliki komunikasi yang baik. Keterampilan sosial ini sangat penting untuk menciptakan kualitas hidup yang baik, terutama dalam interaksi sosial di masyarakat. Mulyono (2018) dalam tulisannya menyatakan, “Melalui pendidikan jasmani, individu tidak hanya memperoleh kebugaran tubuh, tetapi juga terlatih untuk memimpin, bekerja dalam tim, dan menjaga keseimbangan emosional.” Aktivitas jasmani dapat mempererat hubungan sosial, yang berujung pada peningkatan kualitas hidup.

    1. Meningkatkan Produktivitas dan Kreativitas

Kebugaran fisik yang didapat dari pendidikan jasmani juga berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kreativitas. Tubuh yang bugar dapat meningkatkan energi dan fokus, yang memungkinkan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih efisien. Dengan adanya kebugaran fisik yang baik, seseorang akan lebih mampu menghadapi tantangan dalam pekerjaan maupun pendidikan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Kesimpulan

Pendidikan jasmani memiliki peranan yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang. Manfaat yang diperoleh tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga mencakup aspek mental, emosional, dan sosial. Oleh karena itu, pendidikan jasmani harus dipandang sebagai bagian penting dalam upaya peningkatan kualitas hidup di berbagai kalangan masyarakat. Penerapan pendidikan jasmani yang terstruktur dan berkelanjutan dapat membawa dampak yang signifikan dalam menciptakan kehidupan yang lebih sehat, bahagia, dan berkualitas.

Daftar Pustaka

Abidin, H. Y. S. (2015). Pendidikan Jasmani dan Olahraga. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Mulyono, S. (2018). Peran Pendidikan Jasmani dalam Pembentukan Karakter. Jurnal Pendidikan Jasmani, 22(1), 45-58.

Sulaeman, S. M. (2019). Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Mental. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 29(3), 112-119.

Menyelami Krisis Mental Health di Kalangan Siswa SMP: Apa yang Terjadi Sebenarnya?

Penulis : Shafa Rahmadiena Maulany, S.Pd.

Guru Konseling SMP Islam KH. Ahmad Badjuri Campurdarat

Mental health atau kesehatan mental adalah elemen yang sangat penting dalam kehidupan siswa, terutama selama masa SMP. Pada periode ini, mereka berada dalam fase transisi dari anak-anak menuju dewasa, yang ditandai dengan berbagai perubahan fisik, sosial, dan emosional yang signifikan. Sayangnya, transisi tersebut sampai saat ini masih kerap menimbulkan permasalahan mental health di kalangan siswa SMP. Padahal ditinjau dari aspek Bimbingan dan Konseling, siswa SMP seharusnya mampu mencapai Standar Kompetensi Kemandirian Peserta Didik (SKKPD) terkait aspek kematangan emosi. Dalam hal tersebut, mereka harus mampu mengenal cara-cara mengekspresikan perasaan secara wajar, memahami keragaman ekspresi perasaan diri dan orang lain, serta mengekspresikan perasaan atas dasar pertimbangan kontekstual (Kemendikbud, 2016).

Prevalensi masalah mental health dibuktikan dengan hasil survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada remaja usia 10–17 tahun di Indonesia, dimana ditemukan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia memiliki masalah mental health, sementara 1 dari 20 remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja (Gloriabarus, 2022). Selain itu, secara spesifik banyak berita yang telah kita baca atau dengar, salah satunya adanya upaya percobaan bunuh diri siswa SMP yang nekat lompat dari lantai 3 gedung kelas 7, bahkan hingga mengakhiri hidup di rel kereta api (Adri, 2024; Muda, 2024). Temuan tersebut menunjukkan bahwa krisis mental health telah menjadi masalah serius.

Adapun gelaja masalah mental health menurut Rompegading, dkk (2023) di antaranya ditandai dengan: 1) perubahan mood yang ekstrem, 2) kesulitan tidur, 3) kehilangan minat pada aktivitas, maupun 4) kesulitan konsentrasi. Krisis mental health dapat terjadi akibat berbagai faktor, di antaranya adanya tekanan akademis yang berlebihan, isolasi sosial, pelecehan oleh teman sebaya, stigma terhadap bantuan psikologis, cyberbullying, serta pengaruh lingkungan keluarga. Kompleksitas dari penyebab-penyebab tersebut menjadikan upaya penanganan krisis mental health di kalangan siswa SMP sangat penting (Mokodenseho, dkk, 2023).yaqin

Mokodenseho, dkk (2023) menuturkan bahwa dampak yang terjadi dari krisis mental health, di antaranya siswa menjadi lebih rentan mengalami kecemasan dan kehilangan percaya diri akibat berita atau kejadian bunuh diri yang mereka dengar atau saksikan. Selain iu, stigma negatif terhadap mental health semakin meningkat, membuat siswa yang sebenarnya membutuhkan bantuan menjadi enggan mencarinya. Di samping itu, risiko efek tiru (copycat effect) juga dapat memicu lonjakan kasus tersebut.

Tingginya krisis mental menuntut adanya intervensi yang terarah untuk mengatasi tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi oleh siswa SMP. Salah satu faktor signifikan yang teridentifikasi adalah tekanan akademis, yang menunjukkan perlunya menciptakan keseimbangan antara ekspektasi akademis dan kesejahteraan siswa. Selain itu, juga menyoroti peran vital sistem pendidikan dalam mempromosikan kesejahteraan emosional, dengan rekomendasi untuk pelatihan guru, peningkatan layanan konseling di sekolah, dan integrasi pendidikan mental health ke dalam kurikulum (Karisma, dkk, 2023).

Karisma, dkk (2023) juga menuturkan bahwa dalam dinamika lingkungan sosial, ditekankan pentingnya penerapan strategi yang terfokus pada kolaborasi dengan keluarga dan masyarakat, serta evaluasi dan pemantauan yang berkelanjutan, guna mempertahankan dan meningkatkan sistem dukungan bagi siswa. Dengan menerapkan rekomendasi-rekomendasi tersebut, sistem pendidikan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung, mendorong kesejahteraan emosional, dan mendukung perkembangan siswa secara keseluruhan.

 

Daftar Rujukan

Adri, Aguido. (2024). Siswa SMP Bunuh Diri di Cikarang, Tambah Daftar Kasus Serupa pada Anak. [28 Agustus 2024]. Dari: https://www.kompas.id/baca/metro/2024/08/28/siswi-smp-bunuh-diri-di-rel-kereta-api-tambah-daftar-kasus-bunuh-diri-pada-anak.

Gloriabarus. (2022). Hasil Survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki MAsalah Kesehatan Mental. Berita Universitas Gadjah Mada. [24 Oktober 2022]. Dari: https://ugm.ac.id/id/berita/23086-hasil-survei-i-namhs-satu-dari-tiga-remaja-indonesia-memiliki-masalah-kesehatan-mental/.

Karisma, N., Rofiah, A., Afifah, S. N., & Manik, Y. M. (2023). Kesehatan Mental Remaja dan Tren Bunuh Diri: Peran Masyarakat Mengatasi Kasus Bullying di Indonesia. Edu Cendikia: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 3(03), 560-567.

Kemendikbud. (2016). Panduan Operasional Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Jakarta: Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan. Dari: https://akhmadsudrajat.wordpress.com/wp-content/uploads/2017/03/2-panduan-bk-smp-2016ditjen-gtk-revisi-final.pdf.

Mokodenseho, S., Maku, F. H. M., Pobela, S., & Panu, F. (2023). Menangani Krisis Mental di Kalangan Pelajar: Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Emosional dalam Sistem Pendidikan. Jurnal Pendidikan West Science, 1(06), 335-342.

Muda, Harris. (2024). Siswa SMP di Jaksel Nekat Lompat dari Lantai 3, Psikolog: Jangan Anggap Sepele Kesehatan Mental Remaja. [24 Mei 2024]. Dari: https://www.inilah.com/siswa-smp-di-jaksel-nekat-lompat-dari-lantai-3-psikolog-jangan-anggap-sepele-kesehatan-mental-remaja.

Rompegading, A. B., Irfandi, R., Agustina, C., Ramadhani, D., & Rahmat, M. F. (2023). Faktor Munculnya Gejala Stres pada Mahasiswa secara Global Akibat Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi Covid-19. BIOEDUSAINS: Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains, 6(1), 280-299.

yaqin

Membangun Konsep Diri dalam Bimbingan Konseling Islam SMP Islam KH. Ahmad Badjuri

Penulis : Muhammad ‘Ainul Yaqin Sadzali

Konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang, menilai, dan memahami dirinya sendiri. Dalam Islam, membangun konsep diri yang positif sangat penting karena berkaitan erat dengan keimanan, akhlak, dan hubungan dengan Allah serta sesama manusia. Bimbingan konseling Islam memiliki peran strategis dalam membantu individu membangun konsep diri yang sehat dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

  • Pengertian Konsep Diri dalam Islam

Konsep diri dalam perspektif Islam mencakup pandangan seseorang terhadap dirinya sebagai makhluk ciptaan Allah yang memiliki tugas utama sebagai hamba (‘abd) dan khalifah (khalifah). Hal ini tercermin dalam firman Allah:

وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Sebagai hamba Allah, manusia harus memahami identitasnya sebagai makhluk yang bertanggung jawab kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya. Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan oleh Islam.

  • Prinsip Membangun Konsep Diri dalam Islam
    1. Menyadari Potensi Diri

Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan dengan potensi luar biasa:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Potensi ini meliputi kemampuan berpikir, berperasaan, dan berbuat baik. Dalam bimbingan konseling Islam, konselor perlu membantu klien menyadari potensi ini untuk mengembangkan konsep diri positif.

    1. Menerima Kelebihan dan Kekurangan

Konsep diri yang sehat juga mencakup penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan diri. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.

“Setiap anak Adam itu berdosa, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak sempurna, namun dengan menerima kekurangan dan memperbaikinya, seseorang dapat membangun konsep diri yang lebih baik.

    1. Mengaitkan Diri dengan Allah (Tawakal)

Tawakal kepada Allah adalah landasan utama dalam membangun konsep diri. Firman Allah:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗۗ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Talaq: 3)

Konseling Islam mengarahkan individu untuk menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan, sehingga konsep diri seseorang tidak mudah goyah oleh situasi eksternal.

  • Peran Konselor Islam dalam Membantu Klien
    1. Memberikan Pemahaman Aqidah

Konselor perlu membantu klien memahami hakikat dirinya sebagai hamba Allah, sehingga klien dapat menilai dirinya berdasarkan standar yang benar.

    1. Meningkatkan Kepercayaan Diri melalui Doa dan Ibadah

Konselor dapat mendorong klien untuk memperbaiki hubungan dengan Allah melalui ibadah, yang dapat meningkatkan rasa percaya diri.

    1. Memberikan Motivasi dengan Kisah Nabi dan Sahabat

Kisah para nabi dan sahabat memberikan teladan bagaimana menghadapi tantangan hidup tanpa kehilangan konsep diri yang positif.

Referensi :

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Hadis-hadis Nabi Muhammad SAW
  3. Zakiyah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama
  4. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikologi Islami: Paradigma Baru Psikologi Modern

Warisan Berharga Dinasti Umayyah dalam Sejarah Keemasan Islam

Pendahuluan Dinasti Umayyah adalah salah satu dinasti besar dalam sejarah Islam yang memainkan peran penting dalam membangun peradaban Islam. Berdiri pada tahun 661 Masehi, Dinasti Umayyah mencatatkan masa keemasan dengan berbagai pencapaian dalam politik, budaya, dan peradaban. Dinasti ini menciptakan fondasi yang kokoh bagi perkembangan dunia Islam di masa depan, menjadikannya salah satu tonggak penting … Read more

DEEP LEARNING: 3 Pilar Pada Kurikulum Deep Learning Telah Coba Diterapkan Pada Pembelajaran IPA SMP Islam KH. Ahmad Badjuri

Penulis : Nindy Silvia Melyasari, M.Pd

Sesuai dengan Raker antara Kemendikdasmen dengan Komisi X DPR RI pada akhir tahun 2024, peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia terus akan dikaji dan disempurnakan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti beberapa kali menyinggung terkait pendekatan Deep Learning. Hal ini menimbulkan banyak kemungkinan yakni akan bergantinya Kurikulum Merdeka Belajar menjadi Kurikulum Deep Learning. Sebenarnya, apakah Deep Learning itu?

Menurut Davis dalam Hariyanti (2024), Deep Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang memiliki akar pada teori belajar mendalam yang bertujuan untuk mendorong pemahaman konseptual, analisis kritis dan penerapan praktis. Pendekatan ini memiliki tujuan agar siswa memahami inti dari sebuah konsep dan mampu menghubungkannya dengan konteks yang dipelajari. Deep learning mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan teknologi modern dan mendorong inovasi serta kreativitas.

SMP Islam KH. Ahmad Badjuri coba menerapkan 3 pilar dalam Kurikulum Deep Learning yang mencakup mindful learning, meaningful learning, dan joyfull learning pada pembelajaran IPA. Ketiga pilar ini dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang berkesan, aktif, dan relevan dengan materi yang dipelajari.

  • Mindful learning

Metode pembelajaran tradisional yang umumnya menekankan repetisi, hafalan dan hasil akhir dapat disempurnakan dengan penerapan mindful learning (Oppenheimer, dkk, 2014). Mindful learning membantu siswa memahami proses belajar secara sadar penuh dan memahami kebermaknaan dari belajar tersebut. Konsep mindful learning diperkenalkan oleh Ellen J. Langer yakni belajar hendaknya memberikan kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi. Mindful learning membantu siswa menghadapi kecemasan belajar karena metode ini membiasakan siswa untuk terbuka terhadap berbagai pandangan yang berbeda.

SMP Islam KH. Ahmad Badjuri mencoba menerapkan metode mindful learning salah satunya pada pembelajaran IPA dimana siswa diberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam sebuah praktikum, menemukan jawaban sendiri terkait rumusan masalah yang dihadapi, dan mendorong siswa untuk merefleksikan materi pembelajaran.

  • Meaningful learning

Pada meaningful learning, siswa dapat menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman atau informasi yang didapat sebelumnya. Berbeda dengan metode hafalan, meaningful learning lebih menekankan pada pemahaman konsep dimana siswa dapat menerapkannya pada kehidupan nyata secara mandiri. Pembelajaran IPA pada SMP Islam KH. Ahmad Badjuri mencoba menerapkan meaningful learning pada materi perubahan wujud zat dimana siswa melakukan praktikum langsung tentang proses pembuatan es krim (perubahan wujud zat cair menjadi padat), praktikum kristalisasi pada kapur barus, praktikum perkecambahan, dan lain sebagainya. Pembelajaran yang bermakna tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan analisis siswa karena informasi yang dipelajari akan lebih mudah diingat dan dipahami.

  • Joyfull learning

Pembelajaran yang menciptakan suasana yang menyenangkan dan menggembirakan dapat dilakukan dengan menggunakan games atau permainan, seni ataupun diskusi interaktif yang sering digunakan untuk memotivasi siswa agar terlibat secara emosional (Hariyati, 2024). Proses pengalaman belajar yang menyenangkan ini telah diterapkan di SMP Islam KH. Ahmad Badjuri salah satunya penerapan games ular tangga IPA, game wordwall, dan quiziz. Pembelajaran yang menyenangkan dapat menciptakan ikatan kuat antara guru dan siswa karena pelaksanaanya tanpa ada perasaan terpaksa dan tertekan (Caesarani, dkk, 2022). Menurut beberapa guru SMP Islam KH. Ahmad Badjuri, siswa lebih menyukai pembelajaran yang diselingi dengan permainan karena dapat menghidupkan suasana belajar dan memperkecil rasa boring dan burnout.

Kesimpulan

Kurikulum deep learning yang coba diperkenalkan baru-baru ini sebenarnya merupakan pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna. Deep learning telah ada sejak lampau, namun seiring berkembangnya waktu, pendekatan ini disesuaikan dengan situasi belajar anak diberbagai daerah di seluruh penjuru dunia. Kurikulum deep learning membantu mempersiapkan siswa menghadapi tantangan teknologi modern, pemecahan masalah di dunia nyata, mendorong inovasi serta kesadaran etis untuk belajar. Tiga pilar kurikulum deep learning yakni mindful learning, meaningful learning, dan joyfull learning dirancang untuk menciptakan pengalaman belajar yang berkesan, aktif dan relevan.

References 

Caesarani, Sarah., dkk. (2022). Pendampingan dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa dengan Joyfull Learning Method di SDN Siring. Jurnal Pengabdian dan Edukasi Sekolah, Vol. 2, No. 2, hal. 152-157.

Hariyanti, Mustiko. (2024). Deep Learning pada Pembelajaran “Engkong Banjit”. Jurnal Sinergitas Aksi Inovasu Budaya Menulis Inspiratif, Vol. II No.2 Tahun 2024, 91-101.

Dari Gua Hira ke Dunia: Peran Nabi Muhammad SAW dalam Awal Islam

Pendahuluan Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah agama besar seperti Islam bermula? Kisahnya berawal dari sebuah gua kecil di Mekah, bernama Gua Hira. Di sinilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama yang mengubah wajah dunia. Peristiwa ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah Islam, tetapi juga menjadi titik awal peran besar Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa risalah. … Read more

Kapan Mulai di Syariatkan Adzan ?

Kapan Mulai di Syariatkan Adzan ?

Penulis : M. Ja’far Muhtar, S.Pd., M.Ag. 

Guru SMP Islam KH. Ahmad Badjuri Campurdarat.

Kaum muslimin sepakat bahwa adzan adalah sesuatu yang masyru‘ atau disyari’atkan. Kumandang adzan sudah berlaku sejak masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga saat ini. Kapan adzan mulai disyari’atkan?

Adzan disyari’atkan di Madinah pada tahun pertama Hijriyah. Inilah pendapat yang lebih kuat. Di antara dalil yang mendukung pendapat ini adalah hadits Ibnu ‘Umar, di mana beliau berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاَةَ ، لَيْسَ يُنَادَى لَهَا ، فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِى ذَلِكَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى . وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ . فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِى بِالصَّلاَةِ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ »

“Kaum muslimin dahulu ketika datang di Madinah, mereka berkumpul lalu memperkira-kira waktu sholat, tanpa ada yang menyerunya, lalu mereka berbincang-bincang pada satu hari tentang hal itu. Sebagian mereka berkata, gunakan saja lonceng seperti lonceng yang digunakan oleh Nashrani. Sebagian mereka menyatakan, gunakan saja terompet seperti terompet yang digunakan kaum Yahudi. Lalu ‘Umar berkata, “Bukankah lebih baik dengan mengumandangkan suara untuk memanggil orang shalat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Wahai Bilal bangunlah dan kumandangkanlah adzan untuk shalat.”  (HR. Bukhari no. 604 dan Muslim no. 377).

Nah, inilah dalil yang menunjukkan kapan dimulai disyari’atkannya adzan, yaitu pada awal-awal hijrah saat di Madinah. Sampai-sampai Yahudi ketika mendengar kumandang adzan tersebut, mereka berkata, “Wahai Muhammad, engkau sudah membuat hal yang baru yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.” Lantas kala itu turunlah firman Allah,

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ

“Dan apabila kaum menyeru (mereka) untuk mengejarkan shalat (QS. Al Maidah : 58)”

Dapat pula diperhatikan pada firman Allah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ

Referensi:

  1. Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar Al Asqolani, terbitan Dar Thiybah, cetakan keempat tahun 1432 H.
  2. Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayyid Salim, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah.