Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Analisis Efektivitas Asesmen Sumatif Tengah Semester pada Kurikulum Merdeka di SMP Islam KH. Ahmad Badjuri Campurdarat Tulungagung.

Penulis :H. Muhammad Syauqi Denal Muzny. S.E.

Pendahuluan

Penilaian di dunia pendidikan berfungsi sebagai alat ukur sejauh mana capaian pembelajaran siswa. Dalam sistem evaluasi, dikenal dua jenis besar asesmen: formatif dan sumatif. Asesmen formative berlangsung selama proses pembelajaran dan bertujuan untuk memberi umpan balik cepat agar pengajaran dapat disesuaikan. Sementara itu, asesmen sumatif dilakukan pada akhir periode tertentu (misalnya tengah atau akhir semester) untuk mengukur pencapaian hasil belajar secara keseluruhan.

Dalam Kurikulum Merdeka (dan adaptasi di sekolah Islam), istilah “Sumatif Tengah Semester (STS)” digunakan untuk menggantikan istilah tradisional seperti Ulangan Tengah Semester (UTS) atau Penilaian Tengah Semester (PTS).

Pada tingkat SMP Islam, aspek keislaman (nilai-nilai agama, akhlak, ibadah, pemahaman agamawan) harus juga diperhitungkan dalam penilaian sumatif agar siswa tidak hanya unggul dalam aspek akademik umum, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman dan aplikasi nilai-nilai Islam.

Artikel ini membahas apa itu Sumatif Tengah Semester di SMP Islam, bagaimana melaksanakannya, keuntungan dan tantangannya, serta rekomendasi praktis.

Pelaksanaan STS di SMP Islam

Berikut tahapan praktis dan pertimbangan dalam menyelenggarakan STS di SMP Islam:

  1. Perencanaan & Penetapan Kompetensi
  • Guru menetapkan kompetensi dasar dan indikator pencapaian yang sesuai kurikulum (termasuk nilai agama)
  • Standar soal dan bobot tiap kompetensi harus jelas
  • Penjadwalan harus diumumkan jauh hari agar siswa dan guru punya waktu persiapan
  1. Penyusunan Instrumen Penilaian
  • Soal bisa berupa kombinasi pilihan ganda, esai, soal aplikasi / studi kasus, atau proyek
  • Untuk mata pelajaran keagamaan, bisa ditambahkan soal interpretasi teks agama, amal praktik, maupun tugas reflektif
  • Pastikan distribusi kognitif: tidak hanya soal pengetahuan (LOTS), tetapi juga soal berpikir tingkat tinggi (HOTS) agar kedalaman pemahaman juga diuji. Namun penelitian menunjukkan bahwa di banyak sekolah Islam, soal HOTS masih sangat sedikit. (misalnya pada ujian Bahasa Inggris di SMP Islam, proporsi soal HOTS hanya ~4,6 %) 
  1. Pelaksanaan Ujian
  • Pelaksanaan harus di ruang teratur, dengan pengawasan guru
  • Waktu cukup agar siswa tidak terburu-buru
  • Untuk aspek keagamaan, bisa dipadukan dengan tugas praktik (misalnya membaca Al-Qur’an, menjawab refleksi) selain soal tulis
  1. Pengolahan dan Analisis Hasil
  • Koreksi dan nilai soal esai secara objektif
  • Analisis butir soal: identifikasi soal yang terlalu sulit / mudah, diskriminatif
  • Memetakan siswa yang belum mencapai kompetensi
  1. Umpan Balik & Tindak Lanjut
  • Guru menyampaikan hasil dan kelemahan kepada siswa
  • Menyusun program remedial atau pengayaan
  • Refleksi bersama dengan guru lain atau koordinasi tim untuk memperbaiki metode pengajaran
  1. Monitoring dan Evaluasi
  • Evaluasi pelaksanaan STS: apakah instrumen sesuai, apakah waktu cukup, kendala apa yang muncul
  • Revisi instrumen dan proses untuk STS selanjutnya.

Tantangan Khusus di SMP Islam

Menyelenggarakan STS di sekolah Islam bisa menghadapi tantangan tambahan:

  1. Kendala integrasi aspek agama dan umum

Menyelaraskan bobot soal antara materi pendidikan umum dan materi agama agar tidak timpang.

  1. Kurangnya soal HOTS dalam materi keagamaan

Banyak guru belum terbiasa menyusun soal berpikir tinggi di bidang agama sehingga evaluasi cenderung pada hafalan. Penelitian menyebut bahwa dalam mata pelajaran keagamaan sering sulit menyisipkan soal analisis, evaluasi, atau kreasi.  

  1. Keterbatasan kompetensi guru

Tidak semua guru agama memiliki pengalaman atau pelatihan dalam penyusunan instrumen penilaian yang baik.

  1. Keterbatasan waktu dan beban siswa

Siswa mungkin sudah banyak ujian umum, pelajaran agama sering dianggap “tambahan,” sehingga persiapan kurang.

  1. Penilaian aspek non-kognitif

Nilai akhlak, sikap, ibadah sulit diukur secara objektif dalam STS — bisa membutuhkan metode observasi atau portofolio terpisah.

Kesimpulan

Sumatif Tengah Semester (STS) di SMP Islam bukan sekadar ujian tengah, tetapi alat strategis dalam sistem evaluasi pembelajaran. Jika disusun dan dijalankan dengan baik — memperhatikan keseimbangan antara materi umum dan keagamaan, memasukkan soal berpikir tinggi, serta menjadikan hasil sebagai pijakan perbaikan pembelajaran — maka STS bisa menjadi sarana memperkuat kualitas pendidikan Islam di sekolah.

  1. Fitria, N. N., dkk. Summative Assessment of Islamic Education Subject in Merdeka Curriculum. Jurnal Educational Research & Practice.
  2. Sofyanu Tiarahman. “Asesmen Sumatif Tengah Semester: Apa yang Harus Disiapkan agar Pelaksanaannya Bermakna.” Kompasiana.
  3. “Apa Itu Sumatif Tengah Semester Kurikulum Merdeka?” Kumparan.
  4. Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Sumatif — Media Pendidikan, Sarastiana.
  5. Penelitian “Incorporating Higher Order Thinking Skills in Islamic junior high summative assessments” (tentang soal HOTS)
  6. Artikel “Understanding The Concept And Application Of Islamic Education Evaluation Based On The Independent Curriculum In Junior High School”