Pondok Pesantren MADU KH Ahmad Badjuri

Tahfidz Al-Qur’an

Penulis : Muhammad Syauqi Denal Muzny, S.E

Kata tahfiz merupakan bentuk masdar dari haffaza, asal dari kata hafiza-yahfazu yang artinya “menghafal”. Hafiz menurut Quraisy Syihab terambil dari tiga huruf yang mengandung makna memelihara dan mengawasi. Dari makna ini kemudian lahir kata menghafal, karena yang menghafal memelihara dengan baik ingatannya. Juga makna “tidak lengah”, karena sikap ini mengantar kepada keterpeliharaan, dan “menjaga”, karena penjagaan adalah bagian dari pemeliharaan dan pengawasan. Kata hafiz mengandung arti penekanan dan pengulangan pemelihara, serta kesempurnaannya. Ia juga bermakna mengawasi. Allah Swt. memberi tugas kepada malaikat Raqib dan ‘Atid untuk mencatat amal manusia yang baik dan buruk dan kelak Allah akan menyampaikan penilaian-Nya kepada manusia. Sedang kata al-Qur’an merupakan Kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril as. yang ditilawahkan secara lisan, diriwayatkan kepada kita secara mutawatir.

Menurut Farid Wadji, tahfiz al-Qur’an dapat didefinisikan sebagai proses menghafal al-Qur’an dalam ingatan sehingga dapat dilafadzkan/ diucapkan di luar kepala secara benar dengan cara-cara tertentu secara terus menerus. Orang yang menghafalnya disebut al-hafiz, dan bentuk pluralnya adalah al-huffaz. Definisi tersebut mengandung dua hal pokok, yaitu : pertama, seorang yang menghafal dan kemudian mampu melafadzkannya dengan benar sesuai hukum tajwid harus ssuai dengan mushaf al-Qur’an. Kedua, seorang penghafal senantiasa menjaga hafalannya secara terus menerus dari lupa, karena hafalan al-Qur’an itu sangat cepat hilangnya. Dengan demikian, orang yang telah hafal sekian juz al-Qur’an dan kemudian tidak menjaganya secara terus menerus, maka tidak disebut sebagai hafidz al-Qur’an, karena tidak menjaganya secara terus menerus. Begitu pula jika ia hafal beberapa juz atau beberapa ayat al-Qur’an, maka tidak termasuk hafidz al-Qur’an.

Bunyamin Yusuf Surur mendeskripsikan orang yang hafal al-Qur’an sebagai orang yang hafal seluruh al-Qur’an dan mampu membacanya secara keseluruhan di luar kepala atau bi al-ghaib sesuai aturan-aturan bacaanbacaan ilmu tajwid yang sudah masyhur.

Banyaknya penggemar menghafal al-Qur’an dan para penghafal alQur’an merupakan bentuk jaminan Allah terhadap pemeliharaan al-Qur’an. Dalam surat al-Qamar ayat 17, 22, 33, dan 44 Allah tentang firman Allah yang berbunyi “wa laqad yassarna al-qur’ana li adzdzikri” (Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk diingat), ditafsirkan oleh al-Qurtubi sebagai “……Kami mudahkan al-Qur’an untuk dihafal, dan Kami akan tolong siapa saja yang menghafalnya, maka apakah ada pelajar yang menghafalnya, dia pasti akan ditolong”. Maka kemudahan yang diberikan Allah kepada kaum muslimin yang menghafal al-Qur’an merupakan karunia-Nya agar al-Qur’an tetap terjaga kemurnniannya sepanjang zaman.

Terdapat beberapa manfaat dan keutamaan tentang kedudukan para penghafal al-Qur’an. Pertama, menghafal al-Qur’an berarti menjaga otentisitas al-Qur’an yang hukumnya fardlu kifayah, sehingga orang yang menghafal al-Qur’an dengan hati bersih dan ikhlas mendapatkan kedudukan yang sangat mulia di dunia dan di akhirat, karena mereka merupakan makhluk pilihan Allah. Jaminan kemuliaan ini antara lain bahwa orang yang A-Qur’an akan memberi syafaat baginya, menghafal al-Qur’an merupakan sebaik-baik ibadah, selalu dilindungi malaikat, mendapat rahmat dan ketenangan, mendapat anugerah Allah, dan menjadi hadiah bagi orang tuanya.

Kedua, menghafal al-Qur’an membentuk akhlak mulia baik bagi pribadi sang hafidz maupun menjadi contoh bagi masyarakat luas. Al-Qur’an merupakan “hudan li annas” (petunjuk bagi manusia). Semakin dibaca, dihafal dan dipahami, maka semakin besar petunjuk Allah didapat. Petunjuk Allah berupa agama Islam berisi tentang aqidah, ibadah dan akhlak. Akhlak merupakan inti dari agama yang menjadi misi utama Nabi Muhammad Saw diutus Allah. Akhlak yang baik menjadi ukuran kebaikan seseorang yang dengan akhlak baik itu ia menjadi manusia yang ideal. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasyidin yang wa manusia yang ideal adalah manusia yang mampu mewujudkan berbagai potensinya secara optimal, sehingga beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya, mampu memenuhi berbagai kebutuhannya secara wajar, mampu mengendalikan hawa nasfunya, berkepribadian, bermasyarakat, dan berbudaya. Sebaliknya, jika seseorang tidak memiliki akhlak yang baik maka ia akan menjadi orang yang tidak berguna bahkan bisa membahayakan orang lain. Inilah yang diderita oleh mayoritas manusia saat ini, yakni sebuah penyakit yang disebut “split personality” (kepribadian ganda) dimana antara ucapan dan perbuatannya berbeda.

Strategi Pembelajaran Tahfidz Al-Qur’an

Menghafal Al-Qur’an urgen untuk dikembangkan di setiap lembaga pendidikan Islam baik sekolah maupun madrasah karena merupakan usaha menjaga orisinalitas al-Qur’an yang mutlak menjadi kewajiban bagi umat Islam, membentuk pribadi mulia dan meningkatkan kecerdasan. Terbentuknya pribadi mulia dan cerdas, yakni pribadi yang taqwa kepada Allah dan Rasul-Nya, dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan menjadi tujuan pendidkan dan karakteristik sebuah lembaga pendidikan Islam yang maju. Suksesnya program tahfidz al-Qur’an di sebuah lembaga pendidikan Islam menjadi jembatan menuju tercapainya keunggulan-keunggulan terhadap disiplin ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itu, mensukseskan program tahfidz al-Qur’an bagi lembaga pendidikan adalah hal yang penting.

Berdasarkan faktor-faktor kegagalan sebagaimana disebut di atas, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan bagi lembaga pendidikan Islam yang mengelola program tahfidz al-Qur’an. Pertama, memperbaiki dan menyempurnakan manajemen tahfidz al-Qur’an dengan melakukan strategi sebagai berikut: (1) sekolah/madrasah harus menentukan waktu yang tepat. Waktu harus dimanaj sedemikian rupa tanpa menganggu jam pelajaran yang lain. Pemilihan waktu yang tepat akan menunjang konsentrasi peserta didik dalam menghafal al-Qur’an, menghilangkan kejenuhan dan memperbarui semangat. Waktu yang baik untuk menghafal al-Qur’an adalah di pagi hari sebelum kegiatan yang lain dimulai, misalnya jam 06.00 sampai jam 07.00. Jika sekolah/madrasah tersebut memiliki ma’had, maka waktu yang harus dipilih sebaiknya di malam hari antara Maghrib dan Isya sampai saat salat malam (qiyam al-lail) dan setelah subuh. (2) memilih tempat dan lingkungan yang baik dan suci seperti masjid atau mushalla. Zuhairini mengatakan lingkungan adalah suatu faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil tidaknya pendidikan agama. Al-Ghautsani memaparkan bahwa tempat suci sangat berpengaruh dalam menghafal, karena tempat-tempat bergambar, perhiasan, warna-warna mencolok, bising dan gaduh sangat mempengaruhi konsentrasi hafalan. Selain itu, bisa juga disediakan tempat menghafal di laboratorium khusus untuk menghafal alQur’an yang dirancang sedemikian rupa supaya nyaman, sejuk, dan hening. Akan sangat baik pula jika ditunjang dengan fasilitas dan alat-alat seperti MP3, CD al-Qur’an dan papan tulis untuk memudahkan instruktur dan peserta didik dalam proses pembelajaran hafalan al-Qur’an; (3) menentukan materi yang dihafal. Ayat-ayat al-Qur’an yang akan dihafal hendaknya disusun secara berkala. Misalnya ada ayat-ayat yang harus dihafal dan disetorkan setiap hari secara bertahap. Contohnya hafalan lima ayat setiap hari. Ada ayat-ayat mingguan yang merupakan gabungan dari hari pertama sampai akhir pekan. Ada ayat-ayat bulanan, semesteran dan tahunan.

Kedua, mengaktifkan dan memperkuat peran instruktur tahfidz dalam membimbing dan memotivasi siswa penghafal al-Qur’an. Hal ini bisa dilakukan cara-cara sebagai berikut: (1) meningkatkan volume dan intensitas keterlibatan guru tahfidz secara langsung dalam membimbing siswa penghafal yang harus dilakukan secara istiqamah. Keterlibatan langsung seorang guru dalam aktivitas menghafal berpengaruh kuat kepada siswa. Intensitas interaksi antara guru tahfidz dan siswa diperlukan supaya terjalin komunikasi yang era diantara keduanya, sehingga siswa merasa mendapatkan perhatian dan kasih sayang guru. Besarnya perhatian dan kasih sayang guru akan mendorong motivasi siswa yang lebih tinggi; (2) meningkatkan kemampuan guru dalam membimbing dan memotivasi siswa. Oemar Hamalik mengatakan bahwa cara yang digunakan oleh instruktur dalam memberikan materi pelajaran bimbingan besar sekali pengaruhnya terhadap kualitas dan hasil belajar siswa. Dengan demikian, seorang instruktur tahfidz hendaknya memiliki kemampuan yang baik mengenai cara yang tepat dalam membimbing peserta didiknya serta selalu memberikan motivasi. Motivasi dari sang guru tahfidz yang selalu mendampinginya sangat dibutuhkan oleh siswa. Orang yang menghafal al-Qur’an sangat mudah bosan dan lelah. Oleh karena itu, diperlukan motivasi utamanya dari guru yang membimbingnya. Motivasi bisa dilakukan dengan memberikan semangat yang menggugah, memberikan pujian dan penghargaan, memberikan cerita para hafidz/hafidzah yang sukses setelah melakukan perjuangan, cerita pengalaman pribadi guru dan orangorang saleh, juga sangat baik jika diadakan kompetisi antar peserta didik; (3) melakukan rekrutmen guru tahfidz lebih banyak melalui seleksi yang berstandar. Guru tahfidz yang mengajar harus profesional dalam mengajar dan membimbing dengan baik. Niat yang lurus, sabar dan ikhlas menjadi syarat penting dalam proses membimbing. Lebih baik lagi jika mereka juga memiliki keunggulan penguasaan kandungan makna al-Qur’an dan ‘ulum al-Qur’an.

Ketiga, menyempurnakan mekanisme dan metode yang diterapkan oleh guru tahfidz. Salah satu faktor yang mendukung seseorang lebih mudah dan lebih cepat dalam menghafal al-Qur’an adalah penggunaan metode yang tepat dan bervariasi. Hasil hafalannya pun tidak mudah lupa. Sebagaimana diketahui, al-Qur’an yang telah dihafal mudah hilang dari ingatan. Untuk itu, menjaga hafalan lebih berat daripada menghafalnya. Rasulullah Saw bersabda : “Peliharalah hafalan al-Qur’an, sebab demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, al-Qur’an itu lebih cepat terlepas daripada unta yang terikat dalam ikatannya”(Muttafaq Alaih). Supaya mudah dan cepat menghafal al-Qur’an, dan al-Qur’an yang dihafalkan tidak mudah lupa perlu dilakukan strategi berikut : (1) guru tahfidz hendaknya menguasai seluruh metode pembelajaran tahfidz al-Qur’an dan menerapkannya secara bergantian.

Penututp

Masing-masing metode memiliki kelemahan dan kelebihan, sehingga penggunaan metode yang bervariasi bisa saling melengkapi dan menghilangkan kebosanan. Selain itu, penggunaan beberapa metode berpeluang memperkuat hafalan. Beberapa metode yang bisa digunakan seperti metode Talaqqi/Musyafahah (tatap muka/face to face), metode Sima’i (memperdengarkan al-Qur’an), metode Resitasi (pemberian tugas menghafal), metode Muraja’ah/Takrir (mengulang hafalan secara terencana), metode Tafhim (menghafal dengan cara memahami makna ayat), metode menghafal sendiri, metode lima ayat lima ayat, metode Mudarasah (metode menghafal secara bergantian/saling menyimak antar siswa); (2) dalam penggunaan metode secara bergantian, sebaiknya dilakukan secara berurutan dan terencana dengan baik. Misalnya untuk materi harian sebelum siswa menyetorkan hafalan ayat yang baru kepada guru secara face to face, terlebih harus mengulang (takrir) yang disimak secara langsung oleh guru. Hal ini harus dilakukan secara istiqamah, terencana dan terjadwal.

Dapat disimpulkan bahwa aktivitas menghafal al-Qur’an hukumnya fardlu kifayah yang menjadikan seorang penghafal memiliki kedudukan mulia di dunia dan di akhirat, karena para penghafal alQur’an adalah orang-orang yang menjaga keaslian al-Qur’an dari kepalsuan dan kerusakan. Menghafal al-Qur’an merupakan bentuk jaminan Allah terhadap otentisitas al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah telah memudahkan umat Islam yang mau membaca, menghafal, dan menelaah al-Qur’an.

Meskipun demikian, masih terjadi kesulitan dan kegagalan di lembaga pendidikan Islam yang memiliki program menghafal al-Qur’an antara lain : lemahnya manajemen program tahfidz yang diterapkan oleh lembaga pendidikan, kurang aktifnya peran guru/instruktur tahfidz dalam membimbing dan memotivasi siswa penghafal al-Qur’an, mekanisme dan metode yang diterapkan oleh guru tahfidz, lemahnya dukungan orangtua, dan lemahnya kontrol dan motivasi atasan.

 

Referensi

Anis, Ibrahim, dkk., Al-Mu’jam al-Wasit. Mesir : Dar al-Ma’arif, 1392 H.

Syihab, M. Qiraisy, Tafsir al-Misbah. Jakarta : Lentera Hati, 2000. ———————, Menyingkap Tabir Ilahi Al-Asma Al-Husna dalam Perspektof Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati, 2006.

Ash-Shiddieqy, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar ‘Ulum al-Qur’an/Tafsir, cet. ke-XIV. Jakarta :Bulan Bintang, 1992.

Wadji, Farid, Tahfiz al-Qur’an dalam Kajian Ulum Al-Qur’an (Studi atas Berbagai Metode Tahfiz), Tesis IUN Syarif Hidayatullah. Jakarta : Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, 2010.

Nawabuddin, ‘Abd al-Rabbi, Metode Efektif Menghafal Al-Qur’an, terjemah Ahmad E. Koswara, cet. ke-I. Jakarta : CV. Tri Daya Inti, 1992.

Surur, Bunyamin Yusuf, “Tinjauan Komparatif Tentang Pendidikan Tahfidz al-Qur’an di Indonesia dan Saudi Arabia”, Tesis, UIN Sunan Kalijaga. Yoyakarta : Program Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, 1994.

Al-Qurtubi, Syamsuddin, Tafsir al-Qurtubi, (Beirut: Muassasah Manahil al-Irfan, t.t.), juz 17.

Rasyidin, Landasan Pendidikan. Bandung, UPI Press, 2008.

http://www.republika.co.id

http://lilikimzi.wordpress.com.

RAHASIA AL-QUR’AN: MEMBENTUK KARAKTER ANAK YANG MULIA

Penulis : Prima Rahmatika Ahmad, M.Ag Di era globаlisasi dan kemajuan teknologi yang pesat, tantangan yang dihadapi anak-anak semakin kompleks. Mereka tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan mulia. Pendidikan karakter menjadi kunci penting dalam mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, … Read more

Pengaruh Islam pada Perdagangan Jalur Sutra

Pendahuluan Jalur Sutra merupakan jaringan perdagangan yang menghubungkan Timur dan Barat, membentang dari Tiongkok hingga Eropa, serta melewati Asia Tengah dan Timur Tengah. Jalur ini tidak hanya menjadi rute utama bagi perdagangan barang, tetapi juga jalur pertukaran budaya, agama, dan ilmu pengetahuan. Sejak abad ke-7, Islam mulai memainkan peran penting dalam dinamika perdagangan di Jalur … Read more

Peran Kota Mekah dan Madinah dalam Perkembangan Islam Awal

Pendahuluan Mekah dan Madinah adalah dua kota suci yang memiliki peran krusial dalam sejarah awal Islam. Mekah merupakan tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan lokasi pertama kali diturunkannya wahyu. Sementara itu, Madinah menjadi tempat hijrah bagi Nabi dan para sahabat, serta pusat perkembangan Islam pertama yang menjadi model bagi masyarakat muslim. Perjalanan dakwah Islam yang … Read more

Arsitektur dan Seni Islam di Zaman Kuno

Pendahuluan Ketika berbicara tentang arsitektur dan seni Islam, kita tidak hanya berbicara tentang bangunan dan karya seni yang megah, tetapi juga tentang warisan budaya yang kaya dan mendalam. Islam sebagai agama dan peradaban telah memberikan kontribusi besar dalam bidang arsitektur dan seni, yang mencerminkan nilai-nilai spiritual dan estetika yang tinggi. Dari awal mula penyebaran Islam … Read more

Pengimplementasian Gaya Hidup Berkelanjutan Melalui Kreativitas Siswa pada Pembelajaran Prakarya

Penulis : Dilla Sanggra Dewi,S.Pd

Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan gaya hidup berkelanjutan. Pembelajaran Prakarya merupakan salah satu mata pelajaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas siswa dalam membuat produk yang berkelanjutan.

Gaya hidup berkelanjutan merupakan konsep yang penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, masih banyak siswa yang belum memahami pentingnya gaya hidup berkelanjutan dan belum memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengimplementasian gaya hidup berkelanjutan melalui kreativitas siswa pada pembelajaran Prakarya.

Pengimplementasian program gaya hidup berkelanjutan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya hidup berkelanjutan, mengembangkan keterampilan siswa dalam membuat produk yang berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas hidup siswa dan masyarakat.

Pengimplementasian ini dapat dilakukan dengan menggunakan sistem zero waste. Zero waste mempunyai pemahaman yang lebih dari sekedar mendaur ulang sampah, mencakup pencegahan dan pengurangan sampah (Davidson G, 2011). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam yang berbentuk padat (Depkes RI, 2008). Sampah memiliki beberapa jenis, salah satunya adalah sampah plastik. Sampah plastik merupakan salah satu bahan masalah lingkungan yang sangat serius di Indonesia. Berdasarkan data Jenna Jambeck (2018), seorang peneliti sampah dari Universitas Georgia, Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah China yang mencapai 262,9 juta ton. Sampah plastik dapat menyebabkan polusi lingkungan, merusak ekosistem, dan membahayakan kesehatan manusia. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengurangi dan mengelola sampah plastik. Seperti diolah dan dibuat kolase yang berguna untuk mengurangi sampah plastik, meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, dan mengembangkan kreativitas dalam membuat hiasan bermakna.

Tidak hanya seru, Pengimplementasian program gaya hidup berkelanjutan melalui kreativitas siswa pada pembelajaran Prakarya dapat menghasilkan beberapa manfaat, seperti:

  • Mengurangi sampah plastik dan mengurangi polusi lingkungan.
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.
  • Mengembangkan kreativitas dalam membuat hiasan bermakna.
  • Membuat hiasan yang unik dan bermakna.
  • Siswa menjadi lebih sadar akan pentingnya hidup berkelanjutan dan memiliki kemampuan untuk mengembangkannya.
  • Siswa memiliki keterampilan dalam membuat produk yang berkelanjutan.
  • Siswa dan masyarakat memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena dapat menikmati produk yang berkelanjutan.

Pengimplementasian program hidup berkelanjutan melalui kreativitas siswa pada pembelajaran prakarya merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya hidup berkelanjutan dan mengembangkan keterampilan siswa dalam membuat produk yang berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengembangan dan implementasi program ini di sekolah-sekolah seperti di SMP Islam KH. Ahmad Badjuri untuk meningkatkan kualitas hidup terkhusus pada siswa dan masyarakat sekitar pada umumnya.

Peranan Wanita dalam Sejarah Awal Islam

Pendahuluan Sejarah awal Islam penuh dengan kisah inspiratif tentang para wanita yang memainkan peran penting dalam membentuk fondasi umat Islam. Mereka bukan sekadar figur pendukung, tetapi juga sebagai pemimpin, pendidik, pejuang, dan penggerak perubahan sosial yang signifikan. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT sering menyebutkan kisah-kisah wanita mulia sebagai contoh teladan bagi umat manusia. Peran mereka mencakup … Read more

Membentuk Budaya Anti-Korupsi di SMP Islam KH. Ahmad Badjuri

Penulis : Himmatus Sholikhah, S.Pd  Korupsi adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi banyak negara, termasuk Indonesia. Mengatasi korupsi bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh masyarakat. Salah satu cara efektif untuk membangun generasi bebas korupsi adalah dengan menanamkan nilai-nilai anti-korupsi sejak dini, khususnya di lingkungan sekolah. Sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk … Read more

Jejak Perjalanan Haji di Masa Kuno

Pendahuluan Haji merupakan rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu, baik secara fisik maupun finansial. Sejak zaman Nabi Ibrahim AS hingga masa kini, perjalanan haji mengalami banyak perubahan. Haji bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang menghubungkan umat Islam dari seluruh dunia. Dalam setiap langkahnya, haji mengajarkan kesabaran, … Read more

Sistem Pemerintahan dan Administrasi di Zaman Keemasan Islam

Pendahuluan Ketika kita berbicara tentang Zaman Keemasan Islam, kita tidak hanya membayangkan kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, tetapi juga sistem pemerintahan dan administrasi yang luar biasa. Islam, sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga Kekhalifahan Abbasiyah, memiliki struktur pemerintahan yang kuat, adil, dan berbasis syariat. Sistem ini memungkinkan peradaban Islam berkembang pesat dan menjadi pusat ilmu … Read more